Lensa Bola – Kekalahan kembali menghampiri Barcelona dalam melanjutan kompetisi Liga Spanyol musim 2025-2026. Bertandang ke Estadio Montevilli, markas dari Girona, selasa dini hari waktu Indonesia Barat, Blaugrana harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor 1-2. Hasil ini menjadi kekalahan kedua secara beruntun bagi tim Aswan Hansi Flick, setelah sebelumnya mereka di backup Atletico Madrid dengan skor telak 0-4.

Dua hasil negatif tersebut bukan hanya berdampak pada mental tim, tetapi juga menggoyahkan posisi Barcelona dalam perburuan gelar juara, karena mereka gagal mempertahankan momentum untuk tetap berada di puncak klasmen. Sejak awal pertandingan, Barcelona sebenarnya tampil agresif dan menunjukkan determinasi tinggi untuk meraih kemenangan. Peluang pertama hadir pada menit ke-6 melalui aksi Lamin Yamal yang melepaskan tembakan dari luar kotak penalti, namun bola hanya meluncur tipis di sisi kiri gawang.

Tekanan terus berlanjut dan pada menit ke-16, Rafinha berhasil lolos dari kawalan pemain belakang Girona serta berhadapan langsung dengan penjaga gawang. Tetapi penyelesaian akhirnya masih melebar. Dominasi penguasaan bola Barcelona di babak pertama tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan efektivitas penyelesaian akhir.

Girona yang bermain di hadapan pendukung sendiri pun tak tinggal diam. Pada menit ke-2-3, Victor Sigankov memaksa Joan Garcia melakukan penyelamatan penting yang menjaga skor tetap imbang. Menjelang turun minum, Barcelona kembali mendapatkan peluang emas.

Rafinha melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti, namun bola hanya membentur tiang gawang. Drama semakin memuncak ketika Barcelona memperoleh hadiah penalti setelah Dani Olmo dijatuhkan oleh Daily Blind di kotak terlarang. Lamin Yamal yang maju sebagai eksekutor justru gagal memaksimalkan kesempatan tersebut karena sepakannya kembali membentur tiang.

Kegagalan penalti itu menjadi momen krusial yang mempengaruhi psikologi pertandingan. Memasuki babak ke-2, Barcelona akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-60 melalui situasi bola mati. Sepak pojok yang dikirim oleh Jules Kunde berhasil disudul pauku Barsi ke pojok kanan gawang Girona.

Goal tersebut sempat membangkitkan optimisme bahwa Barcelona akan mengendalikan pertandingan. Namun, keunggulan itu hanya bertahan 2 menit. Girona merespon cepat melalui Thomas Lemar yang menerima umpan Vladislav Vanad dan menyelesaikannya dari jarak dekat untuk menyamakan kedudukan.

Setelah skor kembali imbang, Girona tampil berani dan intens dalam menekan. Serangan bertubi-tubi dilancarkan melalui Joel Roca, Sigankov dan Ivan Martin, meskipun sebagian besar masih dapat diamankan oleh Joan Garcia yang tampil cukup solid di bawah mistar. Namun, tekanan tanpa henti akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-86 ketika Fran Beltran melepaskan sepakan akurat dari dalam kotak penalti yang mengarah ke sudut kiri gawang.

Para pemain Barcelona sempat melayangkan protes karena menilai terdapat pelanggaran terhadap Jules Kunde dalam proses terciptanya gol tersebut. Tetapi, Wasid tetap mengesahkan gol setelah mempertimbangkan situasi di lapangan. Di sisa waktu pertandingan, Barcelona berupaya keras mencari gol penyeimbang.

Ronald Araujo mendapatkan peluang emas melalui umpan Yamal, tetapi sundulannya melambung di atas mistar gawang. Robert Lewandowski sempat mencetak gol pada menit ke-92, namun dianulir karena berada dalam posisi offside. Girona bahkan harus kehilangan Joel Roca yang menerima kartu merah akibat pelanggaran terhadap Yamal.

Tetapi, waktu yang tersisa tidak cukup bagi Barcelona untuk memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Skor 2-1 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan. Kekalahan ini berdampak langsung pada klasmen sementara Liga Spanyol.

Barcelona kini tertahan di posisi kedua dengan 58 poin dari 24 pertandingan. Situasi tersebut dimanfaatkan secara maksimal oleh rival abadi mereka Real Madrid, yang berhasil merebut puncak klasmen setelah meraih kemenangan meyakinkan 4-1 atas Real Sociedad di Santiago Bernabu. Kemenangan Real Madrid tersebut membawa mereka mengoleksi 60 poin dari jumlah pertandingan yang sama, unggul dua angka dari Barcelona.

Performa konsisten Los Blancos di bawah tekanan, menunjukkan kedalaman sekuat dan efektivitas strategi yang mereka terapkan musim ini. Ketajaman lini depan yang dipimpin para pemain bintang, serta soliditas lini tengah menjadi kunci keberhasilan mereka mempertahankan ritme kemenangan. Pergeseran posisi di puncak klasmen ini, menegaskan bahwa persaingan gelar musim 2025-2026 akan berlangsung sengit hingga pekan-pekan terakhir.

Di luar persoalan teknis di lapangan, Barcelona juga menjadi sorotan terkait penggunaan teknologi VAR di La Liga. Manajemen Klub sebelumnya menyuarakan protes terhadap sejumlah keputusan wasid yang dinilai merugikan mereka. Statistik menunjukkan bahwa hingga pekan ke-2-3, pertandingan Barcelona telah dihentikan sebanyak 16 kali untuk peninjauan VAR.

Hal itu menjadikan mereka salah satu tim yang paling sering terlibat dalam intervensi teknologi tersebut. Dari jumlah itu, 8 keputusan dinilai menguntungkan Barcelona, termasuk pengesahan beberapa gol serta hukuman kartu merah bagi pemain lawan. Namun di sisi lain, mereka juga mengalami sejumlah keputusan yang merugikan.

Seperti dianulirnya gol Ferran Torres dan Fermin Lopez, serta pemberian penalti akibat handsball yang dilakukan beberapa pemain belakang mereka. Fenomena ini mencerminkan kompleksifitas penerapan VAR dalam kompetisi yang sangat kompetitif seperti Liga Spanyol. Tingginya frekuensi intervensi teknologi dalam laga-laga Barcelona, memicu perdebatan publik mengenai konsistensi dan kualitas kepemimpinan wasid.

Meski demikian, secara statistik, dampak positif dan negatif VAR terhadap Barcelona terlihat relatif seimbang. Sehingga, polemik lebih banyak bergisar pada persepsi dan mementum pertandingan ketimbang ketimpangan data semata. Bagi Hansi Flick, periode ini menjadi ujian kepemimpinan yang sesungguhnya.

Barcelona masih memiliki kualitas squad yang mumpuni, namun efektivitas penyelesaian akhir serta konsentrasi di menit-menit krusial menjadi pekerjaan rumah utama. Ketidakmampuan memaksimalkan peluang, seperti kegagalan penalti dan sejumlah peluang emas yang terbuang, terbukti sangat merugikan dalam laga-laga ketat. Selain itu, aspek mentalitas juga perlu diperkuat agar tim mampu merespon tekanan dengan lebih tenang dan disiplin.

Berikutnya, Barcelona dijadwalkan menghadapi Levante pada 22 Februari 2026 dalam lanjutan La Liga. Laga tersebut menjadi momentum penting untuk bangkit dan menjaga jarak dengan puncak klasmen agar tidak semakin melebar. Dengan kompetisi yang masih panjang, peluang merebut kembali posisi teratas tetap terbuka.

Namun, konsistensi performa dan kemampuan belajar dari kesalahan akan menjadi faktor penentu apakah Barcelona mampu kembali ke jalur kemenangan dan mempertahankan asa dalam perebutan gelar juara musim ini.

lion mesdon
Februari 20, 2026
Tags: ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *