Lensa Bola – Real Madrid kembali menelan pil pipe di hadapan pendukungnya sendiri setelah takluk 1-2 dari Manchester City dalam lanjutan Liga Champions 2025-2026. Kekalahan ini terasa semakin menyakitkan karena Los Blancos sempat unggul lebih dulu sebelum akhirnya harus menyerah akibat kebangkitan tim tamu. Hasil tersebut sekaligus memperpanjang tren negatif Madrid di kandang setelah sebelumnya mereka juga dipermalukan Celta Vigo 2 goal tanpa balas.

Dua kekalahan beruntun di Bernabu ini langsung memicu gelombang kritik keras terhadap pelatih Xabi Alonso yang baru 6 bulan menukangit tim sekaligus memunculkan spekulasi panas soal masa depan di kursi pelatih Real Madrid. Dalam pertandingan Kamis dini hari waktu Indonesia Barat, Xabi Alonso menurunkan formasi 4-3-3 dengan mengandalkan trio Vinicius Junior, Rodrigo dan Gonzalo Garcia di lini depan. Sementara itu, Manchester City besutan Pep Guardiola tampil dengan komposisi penyerang yang diisi oleh Erling Haaland, Jeremy Doku dan Ryan Charkey dengan Gianluigi Donnarumma mengawal gawang.

Madrid langsung mencoba menekan dan baru 4 menit pertandingan berjalan mereka nyaris membuka skor melalui tendangan bebas keras Federico Valverde yang membentur pagar hidup pemain City sebelum meluncur tipis di sisi gawang. 3 menit berselang, Vinicius kembali meneror pertahanan City setelah menerima umpan terobosan dari Rodrigo di sisi kiri. Dengan kecepatan dan kelincahannya, ia menusuk ke kotak penalti dan mencoba mencungkil bola melewati Donnarumma.

Namun, upayanya masih melebar. Meski mendapatkan 2 peluang awal, secara umum penguasaan bola justru dikuasai oleh Manchester City. Tim tamu tampak sabar membangun serangan dengan umpan-umpan pendek khas sepak bola Guardiola meski pertahanan Madrid cukup disiplin dalam meredam tekanan.

Madrid justru kembali mendapatkan peluang berbahaya pada menit ke-19 melalui sundulan Aurelian Cuemeni yang menyambut umpan mati Rodrigo. Namun, bola masih melenceng dari sasaran. Kendaki Kylian Mbappe hanya duduk di bangku cadangan karena kondisinya belum sepenuhnya fit.

Madrid tetap mampu menciptakan ancaman lewat skema serangan balik cepat. Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-28 ketika Jude Bellingham mengirimkan umpan terobosan akurat kepada Rodrigo di sisi kanan kotak penalti. Dengan tenang, pemain asal Brazil itu menaklukkan Donnarumma dengan tembakan mendatar ke sudut kiri sekaligus mengakhiri pacek league goal-nya di kompetisi Eropa.

Keunggulan Madrid sayangnya hanya bertahan singkat. Manchester City segera merespons dengan intensitas tekanan dan akhirnya menyamakan kedudukan 7 menit kemudian. Berawal dari sepak pojok Ryan Cherki, Yuskovar duel memenangi duel udara dan menyundul bola ke arah depan gawang.

Yang kemudian, yang kemudian disambar cepat oleh Nico O’Reilly hingga gagal dibendung oleh Thibaut Courtois. Goal tersebut membuat City semakin percaya diri. Menjelang akhir babak pertama, petaka kembali datang bagi tuan rumah.

Wasit menunjuk titik putih setelah tayangan farm menunjukkan Antonio Rudiger melanggar Erling Haalan di dalam kotak penalti. Haaland yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna membawa City berbalik unggul 2-1 hingga turun minum. Memasuki babak kedua, Real Madrid mencoba bangkit dengan meningkatkan agresifitas serangan.

Peluang terbaik hadir pada menit kelima puluh melalui skema serangan balik cepat. Vinicius mengirimkan bola kepada Rodrigo lalu diteruskan kepada Bellingham yang menyisir dari sisi kanan. Namun, alih-alih mengirim umpan kepada Gonzalo Garcia yang berdiri bebas di depan gawang, Bellingham memilih melakukan penyelesaian sendiri dari sudut sempit yang justru berakhir di atas Mr. Gawang.

Keputusan itu menjadi salah satu momen yang paling disesalkan oleh kubu Madrid. Keputusan sahabih Alonso untuk tetap menyimpan kilian Mbappé di bangku cadangan sepanjang pertandingan juga menjadi bahan perbincangan panas. Dalam kondisi tertinggal dan membutuhkan kreativitas serta daya gedor tambahan, absen Mbappé di lapangan dinilai sebagai perjudian besar yang tidak berjalan sesuai rencana.

Madrid terus berupaya untuk menekan, namun penyelesaian akhir mereka tetap kurang efektif. Di sisi lain, Manchester City tidak sepenuhnya bertahan dan tetap memberikan ancaman. Pada menit ke-61, Jeremy Doku hampir memperlebar keunggulan City setelah sukses melewati Raúl Asensio dan melepaskan tembakan ke tiang jauh.

Namun, Córdova masih mampu melakukan penyelamatan gemilang. Seiring berjalannya waktu, tempo permainan mulai menurun. Namun, tekanan Madrid tak sepenuhnya surut.

Peluang emas kembali hadir pada menit ke-76 lewat tandukan Vinicius yang menyambut umpan silang Rodrigo. Tetapi, bola kembali melebar dari target. Delapan menit kemudian, Madrid nyaris menyamakan kedudukan ketika sundulan Enric hasil umpan silang dari Alvaro Carreras hanya membentur Mister Gawang.

Hingga peluit panjang dibunyikan, skor tidak berubah dan Manchester City sukses membawa pulang kemenangan berharga dari Bernabeu. Sekaligus, membuat para pemain dan pendukung Madrid tertunduk lesu. Rentetan hasil negatif ini langsung memunculkan sorotan tajam kepada Xabi Alonso.

Meski baru enam bulan menjabat, tekanan terhadapnya datang dengan sangat cepat. Hasil lingkungan Real Madrid yang menuntut hasil instan di setiap musim. Sejumlah pengamat menilai bahwa Alonso mulai kewalahan menghadapi ekspektasi tinggi, serta dinamika ruang ganti yang tidak sederhana.

Jurnalis senior Marca Juan Castro secara terbuka menyatakan pesimismenya terhadap masa depan Alonso. Menurutnya, dua kekalahan kandang beruntun menjadi sinyal yang sangat mengkhawatirkan bagi seorang pelatih di klub sebesar Real Madrid. Ia menilai bahwa meskipun para pemain telah menunjukkan usaha maksimal di lapangan, hasil tetap menjadi tolak ukur utama yang tidak bisa ditawar.

Castro juga menyebut bahwa suasana di Bernabeu kini sepenuhnya mengarah kepada Sabi Alonso, dan tekanan tersebut akan terus membesar jika Madrid kembali gagal meraih kemenangan dalam waktu dekat. Di tengah kritik yang deras, dukungan terhadap Alonso juga tidak sepenuhnya hilang. Pep Guardiola, pelatih Manchester City yang baru saja mengalahkannya, secara terbuka menyatakan bahwa wacana pemecatan Alonso terlalu terburu-buru.

Guardiola menegaskan bahwa proyek jangka panjang membutuhkan kesabaran dan stabilitas, bukan keputusan impulsif. Mantan bek Real Madrid Jonathan Woodgate juga memberikan pembelaan keras terhadap Alonso. Ia menyebut bahwa sangat tidak adil memecat seorang pelatih muda yang baru bekerja selama 6 bulan, apalagi setelah sebelumnya sukses besar bersama dengan Bayer Leverkusen.

Woodgate menilai bahwa jika Madrid memang ingin membangun dengan pelatih muda, maka Klopp juga harus berani memberi waktu bukan sekedar menuntut hasil instan. Namun, di balik dukungan tersebut, spekulasi tentang calon pengganti Alonso terus bergulir. Salah satu nama yang paling santer dibicarakan adalah mantan manajer Liverpool Jurgen Klopp.

Meski Klopp berkali-kali menyatakan tidak tertarik untuk kembali ke dunia kepelatian dalam waktu dekat, namanya tetap mencuat dalam diskusi internal manajemen Madrid. Jurgen Klopp dipandang sebagai figur yang mampu mengembalikan stabilitas serta otoritas di ruang ganti, yang disebut-sebut tengah mengalami gesekan. Sejak Januari lalu, Klopp diketahui menjabat sebagai kepala sepak bola global di Red Bull Group, sebuah keputusan yang sempat menuai kritik karena bertentangan dengan sikap idealisme di masa lalu.

Sejumlah laporan menyebut kontraknya mengandung klausul khusus yang memungkinkannya kembali melatih tim nasional Jerman jika kesempatan itu datang. Namun, belum ada kepastian apakah klausul tersebut juga berlaku untuk klub sebesar Real Madrid. Sumber terdekat Klopp mengungkapkan bahwa ia saat ini merasa bahagia dengan peran barunya.

Tetapi, dalam sepak bola modern, peluang untuk kembali ke kursi pelatih selalu terbuka, terutama jika tawaran datang dari klub sebesar Real Madrid. Selain Klopp, dua nama lain juga masuk dalam radar manajemen. Mereka adalah Alvaro Arbeloa dan Zinedine Zidane.

Arbeloa yang kini menangani Real Madrid Castilla dipandang sebagai pelatih muda yang memahami betul filosofi dan DNA klub. Sementara Zidane yang telah memberikan 3 gelar Liga Champion secara beruntun masih menjadi sosok yang sangat dihormati oleh Florentino Perez. Namun, laporan dari Perancis menyebutkan bahwa Zidane hingga kini masih memprioritaskan peluang menangani tim nasional Perancis.

Sehingga, peluang kembalinya ke Birnabu untuk ketiga kalinya belum sepenuhnya pasti. Real Madrid kini berada dalam situasi yang kompleks, tak hanya di Eropa, namun juga di La Liga. Kekalahan dari Manchester City memang hanya satu pertandingan.

Tetapi, dampaknya terasa jauh lebih luas karena menyangkut arah masa depan klub dan stabilitas kepelatian. Dua kali menang dalam delapan pertandingan membuat Xabi Alonso berada di persimpangan penting karirnya.  Beberapa pertandingan kedepan akan menjadi penentu apakah ia masih diberi kepercayaan untuk melanjutkan proyek barunya.

Atau justru, harus mengakhiri petualangannya di Santiago Bernabu lebih cepat dari yang dibayangkan. Jika ia mampu membawa Madrid bangkit dan kembali ke jalur kemenangan, tekanan itu bisa berubah menjadi momentum kebangkitan. Namun, jika hasil buruk terus berlanjut, keputusan besar dari manajemen tampaknya tinggal menunggu waktu.

lion mesdon
Desember 11, 2025
Tags: ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *