Lensa Bola – Pertandingan lanjutan Serie A Pekan ke-15 mempertemukan AC Milan dan Sassuolo dalam sebuah duel penuh intensitas yang berlangsung di Stadion San Siro Minggu Malam waktu Indonesia Barat. Laga ini bukan sekedar aduk kualitas dua tim papan tengah dan atas kelasmen, tetapi juga menghadirkan banyak cerita menarik, terutama terkait performa kapten tim nasional Indonesia Jaijus yang kembali menjadi sorotan di pentas sepak bola Eropa. Bagi Jaijus, secara pribadi, laga melawan AC Milan memiliki makna emosional dan profesional tersendiri.

Bek berusia 25 tahun itu, kembali mengembang tanggung jawab besar sebagai pilar utama lini pertahanan Sassuolo. Kepercayaan yang diberikan pelatih Sassuolo kepada Jaijus, terbayar dengan penampilan yang solid, penuh determinasi dan tidak gentar menghadapi tekanan besar dari tim tuan rumah. Sassuolo tampil berani sejak menit awal pertandingan, alih-alih bermain bertahan dan menunggu serangan Milan, tim berjuluk Inero Verdi justru menunjukkan keberanian dengan mengambil inisiatif permainan.

Kepercayaan diri itu langsung membuahkan hasil ketika mereka mampu mencetak gol pembuka pada menit ke-13. Gol tersebut berawal dari kesalahan fatal Belandang AC Milan Adrian Rabiot yang kehilangan bola akibat tekanan agresif dari Sebastian Walukiewicz. Bola liar kemudian jatuh ke kaki Nemanja Metik yang dengan ketenangan khas pemain berpengalaman segera mengalirkannya kepada Andrea Pinamotti.

Tanpa ragu, Pinamotti menyedorkan bola ke Ismail Kone yang berdiri di posisi ideal untuk menuntaskan peluang. Dengan penyelesaian dingin berupa tembakan cungkil, Kone berhasil mengecoh Mike Mannion dan membawa Sassuolo unggul lebih dahulu membungkam sejenak publik San Siro. Tertinggal satu gol di kandang sendiri membuat AC Milan langsung meningkatkan tempo permainan.

Mereka menekan lebih agresif demi mengejar gol penyama kedudukan. Adrian Rabiot menjadi salah satu pemain yang paling bernafsu menebus kesalahannya. Peluang Mas Milan hadir melalui situasi yang hampir berbuah gol setelah Aliyu Fadera melakukan kesalahan dengan menggiring bola terlalu lama di area pertahanan Sassuolo.

Rabiot berhasil merebut bola, melewati hadangan Jeitzes dan melepaskan tembakan keras ke arah gawang. Namun, keeper Arijanet Muric tampil sigap dengan menahan bola menggunakan dadanya. Pada situasi bola muntah, Rabiot kembali mendapatkan kesempatan emas.

Tetapi kali ini Jay Idzes muncul sebagai penyelamat dengan melakukan sapuan di garis gawang. Aksi goal line clearance tersebut menjadi salah satu momen krusial dalam pertandingan karena menggagalkan peluang Milan untuk menyamakan skor lebih cepat. Namun, tekanan tanpa henti dari tuan rumah akhirnya membuahkan hasil melalui sosok yang tak terduga.

David Bartesagi, wingback muda berusia 19 tahun yang merupakan produk Akademi AC Milan, mencuri perhatian dengan mencetak goal penyama kedudukan. Goal tersebut lahir dari pergerakan cerdas Bartesagi yang lolos dari pengawalan di dalam kotak penalti. Umpan mendatar dari Ruben Loftuscik melintas tanpa hambatan, sementara Bartesagi berhasil lepas dari perhatian Sebastian Walukiewicz.

Jay Idzes yang tengah fokus mengawal pemain lain tidak menyadari pergerakan sang back muda, sehingga Bartesagi mampu menyambar bola dan menaklukkan Muric. Goal ini menjadi goal pertamanya bersama dengan tim senior Milan, dan langsung mengukuhkan namanya sebagai salah satu talenta muda yang patut diperhitungkan. Momentum positif AC Milan berlanjut di awal babak kedua.

Baru beberapa menit pertandingan dimulai kembali, Bartesagi kembali mencatatkan namanya di papan skor dan membalikan keadaan menjadi 2-1. Kali ini, ia menyambar umpan matang dari Christopher Ngkungku setelah melakukan penetrasi dari sisi kiri pertahanan Sassuolo. Jay Idzes berusaha menghentikan tembakan tersebut dengan tackle, tetapi bola terlanjur meluncur ke sudut dekat gawang dan tidak mampu dijangkau oleh Muric.

Goal kedua ini membuat San Siro bergemuruh dan seolah menandai comeback kedua Milan secara beruntun, setelah pekan sebelumnya juga bangkit dari ketertinggalan. Lebih dari itu, goal Bartesagi memiliki nilai historis karena menjadikannya back Italia termuda yang mencetak goal untuk AC Milan di Serie A sejak Paolo Maldini melakukannya pada tahun 1988. Meski tertinggal, Sassuolo tidak kehilangan semangat.

Mereka tetap berusaha keluar dari tekanan dan mencari celah di lini pertahanan Milan. Di sisi lain, AC Milan sempat mengira telah menguncik kemenangan setelah mencetak dua goal tambahan melalui Christian Pulisic dan Ruben Loftuscik. Namun, selebrasi tersebut harus terhenti karena keputusan wasit yang menganulir kedua goal.

Pulisic dianulir akibat pelanggaran dalam proses terjadinya goal, sementara Loftuscik dinyatakan berada dalam posisi offside. Keputusan ini menjadi titik balik yang kembali membuka peluang Sassuolo untuk bangkit dan mengubah jalannya pertandingan. Usaha Sassuolo akhirnya membuahkan hasil ketika mereka berhasil menyemakan kedudukan menjadi dua-dua.

Goal tersebut tercipta melalui kerjasama satu sentuhan yang rapi dan efisien antara Arman Lauriente, Ismail Kone, dan Andrea Pinamotti. Lauriente menjadi eksekutor akhir dengan melepaskan tembakan menyilang yang meluncur ke pojok gawang tanpa mampu dihentikan oleh Mike Mannion. Goal ini kembali menghidupkan tensi pertandingan dan membuat duel berjalan semakin terbuka hingga menit-menit akhir.

Bahkan, Sassuolo nyaris mencetak goal ketiga ketika Lauriente melepaskan tembakan keras yang hanya membentur tiang gawang. AC Milan pun harus berterima kasih pada keberuntungan karena terhindar dari kekalahan di kandang sendiri. Hingga laga berakhir, tidak ada goal tambahan yang tercipta.

Kedua tim harus puas berbagi satu poin dalam pertandingan yang syarat drama, intensitas tinggi, dan kualitas permainan yang seimbang. Secara individu, Jay Idzes mencatatkan performa yang cukup menonjol. Ia membukukan akurasi umpan mencapai 95% dengan 39 umpan sukses dari 41 percobaan menunjukkan ketenangan dalam mengalirkan bola dari lini belakang.

Dari sisi defensif Jay Idzes terlibat dalam 9 aksi bertahan termasuk 1 tackle, 5 sapuan, 2 sapuan menggunakan kepala serta 3 intercept. Meski hanya memenangkan 2 dari 5 duel 1 lawan 1 dan duel udara, kontribusinya tetap signifikan dalam menjaga stabilitas pertahanan Sassuolo. Aksi paling berkesan dari Jay Idzes adalah penyelamatan di garis gawang yang menggagalkan peluang mas Adrian Rabiot pada babak pertama.

Selain itu, duel fisiknya dengan Christian Pulisic juga menjadi sorotan. Dalam sebuah perbutan bola udara, Jay Idzes melakukan kontak keras yang membuat Pulisic terjatuh dan sempat mendapatkan perawatan medis. Meski dinilai cukup keras, Wasid tidak memberikan sanksi kartu dan situasi tersebut berakhir sportif dengan saling berjabat tangan.

Media Italia menilai gaya bermain fisik Jay Idzes efektif dalam meredam agresifitas lini serang milan tanpa melampaui batas fair play. Berdasarkan penilaian situs statistik FootMob, Jay Idzes memperoleh rating 6,5. Lebih baik dibandingkan salah satu rekannya di lini belakang Vali Kande, meski masih sedikit di bawah tarik Muharremovic dan Sebastian Walukiewicz.

Penampilan ini semakin menegaskan peran Jay Idzes sebagai figur sentral lini pertahanan Sassuolo, sekaligus memperlihatkan konsistensinya bersaing di level tertinggi sepak bola Italia. Secara keseluruhan, laga antara AC Milan dan Sassuolo bukan hanya menyajikan hasil imbang yang menarik, tetapi juga menghadirkan narasi tentang keberanian tim tamu, kemunculan bintang muda Milan, serta pembuktian kualitas pemain Indonesia yang mampu tampil kompetitif di salah satu liga terbaik dunia. Bagi AC Milan, hasil ini menambah 1 poin menjadi 32 angka, sementara Sassuolo membawa pulang poin berharga yang mengukuhkan mereka di peringkat ke-9 klasmen dengan koleksi 21 poin, unggul tipis dari beberapa pesaing di papan tengah.

lion mesdon
Desember 29, 2025
Tags: ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *