Lensa Bola – Keputusan manajemen Tottenham Hotspur untuk mengakhiri kerjasama dengan Enfos de Kogeloo sempat mengejutkan banyak pihak, terutama karena sang pelatih baru saja mengantarkan klub menjuarai Liga Eropa Musim 2024-2025. Keberhasilan tersebut memiliki makna yang sangat besar bagi Tottenham, mengingat klub asal London Utara itu telah lama dikenal sebagai tim besar yang kerap gagal mengonversi potensi menjadi prestasi nyata. Gelar Liga Eropa tidak hanya menjadi trofi bergensi di level kontinental, tetapi juga mengakhiri penantian panjang selama 41 tahun bagi Spurs untuk kembali merasakan kejayaan di kompetisi Eropa

Bagi para pendukung setia, momen tersebut seharusnya menjadi titik awal kebangkitan dan fondasi untuk membangun era kesuksesan baru yang lebih stabil dan berkelanjutan. Namun, alih-alih mempertahankan kesinambungan proyek yang telah membawa hasil konkret, manajemen klub justru memilih mengambil langkah beresiko dengan menunjuk Thomas Frank sebagai pelatih kepala. Frank, pelatih asal Denmark berusia 52 tahun, dikenal luas berkat reputasinya membangun Brentford menjadi tim yang solid dan kompetitif di Premier League.

Pendekatan taktiknya yang fleksibel, disiplin organisasi permainan, serta kemampuannya memaksimalkan potensi pemain dengan sumber daya terbatas, membuatnya dipandang sebagai sosok yang mampu membawa Tottenham ke level berikutnya. Harapannya, di bawah kendali Frank, Spurs tidak hanya menjadi juara kompetisi sekunder Eropa, tetapi juga tampil konsisten sebagai penantang gelar di Liga Inggris musim 2025-2026. Ekspektasi tinggi tersebut sejauh ini belum berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan.

Memasuki pertengahan musim, performa Tottenham di bawah Aswan Thomas Frank justru menunjukkan inkonsistensi yang cukup mengkhawatirkan. Dari 16 pertandingan Premier League yang telah dijalani, Spurs baru mengeleksi 22 poin, hasil dari 6 kemenangan, 4 hasil imbang, dan 6 kekalahan. Catatan tersebut membuat Tottenham terjebak di papan tengah klasmen dan terlempar dari persaingan gelar sejak dini.

Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas transisi kepelatihan yang dilakukan oleh klub. Pergantian filosofi permainan dari era ensposta koglu ke pendekatan Thomas Frank tampak belum sepenuhnya dipahami dan diinternalisasi oleh para pemain. Adaptasi taktik yang belum berjalan mulus berdampak pada kurangnya konsistensi permainan baik dari segi organisasi bertahan maupun efektivitas serangan.

Di beberapa pertandingan, Tottenham mampu tampil dominan, namun pada laga lain justru terlihat rapuh dan kehilangan identitas permainan. Ketidakstabilan ini perlahan memunculkan tekanan internal yang mulai terlihat ke permukaan. Surotan paling nyata muncul setelah kekalahan telak Tottenham Hotspur dari Nottingham Forest dengan skor 0-3 di city ground.

Kekalahan tersebut bukan hanya menambah daftar hasil buruk Spurs, tetapi juga membuka kembali isu ketegangan antara Thomas Frank dan salah satu pemainnya Diez Spence. Dalam laga tersebut, Spence tampil sebagai back sayap dan menunjukkan intensitas permainan yang cukup baik pada babak pertama. Namun, sekitar satu jam pertandingan berjalan, ia ditarik keluar dan digantikan oleh Ben Davies.

Spence sebelumnya sempat mengalami benturan, tetapi keputusan pergantian itu tampaknya tidak diterima dengan lapang dada oleh pemain berusia 22 tahun tersebut. Saat berjalan menuju pinggir lapangan, Spence terlihat mengangkat tangannya seolah mempertanyakan keputusan sang pelatih. Gestur itu, disertai ekspresi frustasi yang jelas terlihat, mencerminkan kekecewaan yang mendalam terhadap situasi yang sedang dihadapi tim.

Momen tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu spekulasi mengenai hubungan yang tidak harmonis antara pemain dan pelatih. Situasi semakin terasa ironis ketika tak lama setelah pergantian pemain itu, gawang Tottenham kembali ke bobolan. Tembakan jarak jauh Ibrahim Sanghare memastikan kemenangan 3-0 bagi Nottingham Forest dan menutup malam yang suram bagi Spurs.

Kekalahan tersebut sekaligus mempertegas rapuhnya mental dan organisasi permainan Tottenham di tengah tekanan, serta menambah beban bagi Thomas Frank yang kini berada dalam sorotan tajam. Insiden yang melibatkan diet Spence ini bukanlah yang pertama terjadi pada musim tersebut. Sebelumnya, Spence bersama dengan bek tengah Mickie van de Ven juga sempat menjadi perbincangan setelah kamera menangkap momen keduanya terlihat mengabaikan Thomas Frank usai kekalahan dari Chelsea.

Di tengah hasil pertandingan yang terus mengecewakan, setiap gestur kecil pun dengan mudah ditafsirkan sebagai indikasi masalah internal. Menanggapi berbagai spekulasi tersebut, Thomas Frank berupaya meredam situasi dengan memberikan penjelasan yang menenangkan. Pelatih asal Denmark itu menegaskan bahwa reaksi emosional dari para pemain merupakan hal yang wajar, terutama ketika tim sedang berada dalam periode sulit dan jauh dari target yang diharapkan.

Semua pemain frustasi, mereka ingin menang, ingin tampil baik dan ketika hasil tidak sesuai harapan, emosi seperti itu pasti muncul. Saya bisa memahami perasaan mereka. Ia juga mengungkapkan bahwa Spence dan Mickie van de Ven telah mendatanginya secara langsung untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya.

Keduanya menyampaikan permintaan maaf dan menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menunjukkan sikap tidak hormat kepada pelatih, tim maupun klub. Menurut Frank, kekecewaan mereka lebih disebabkan oleh performa tim yang menurun, hasil pertandingan yang tidak memuaskan, serta tekanan dari reaksi penonton yang semakin kritis. Ia menambahkan bahwa baik Spence maupun van de Ven tetap menunjukkan komitmen penuh dalam latihan dan pertandingan, sehingga isu tersebut tidak perlu dibesar-besarkan.

Meski demikian, kekalahan dari Nottingham Forest tetap memperbesar surutan terhadap posisi Thomas Frank sebagai pelatih Tottenham Hotspur. Dengan performa yang belum stabil, dan target musim yang mulai menjauh, tekanan dari supporter dan media semakin meningkat. Banyak pihak mulai membandingkan kondisi saat ini dengan era Ennis Postekoglu yang meskipun kerap menuai kritik di kompetisi domestik, namun mampu memberikan trofi dan identitas permainan yang jelas bagi tim.

Bagi Tottenham Hotspur, tantangan ke depan tidak hanya berkaitan dengan perbaikan hasil di atas lapangan, tetapi juga bagaimana menjaga stabilitas internal tim di tengah proses transisi. Ketegangan seperti yang melibatkan Spence menjadi pengingat bahwa perubahan kepemimpinan membutuhkan waktu, komunikasi yang terbuka, serta kepercayaan dari semua pihak. Musim 2025-2026 masih panjang, dan Thomas Frank masih memiliki kesempatan untuk membalikan keadaan.

Namun, jika inkonsistensi performa dan dinamika internal terus berlanjut, tekanan terhadap kursi pelatih akan semakin besar. Bagi klub yang baru saja mengakhiri penantian panjang akan kejayaan Eropa, menjaga arah pembangunan tim dan stabilitas jangka panjang, kini menjadi tantangan yang sama pentingnya dengan meraih trofi itu sendiri.

lion mesdon
Desember 30, 2025
Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *