
Lensa Bola – Menjelang periode natal, peta persaingan di lima liga besar Eropa menghadirkan sebuah ironi yang sulit diabaikan. Di tengah tuntutan kompetisi yang semakin ketat, hanya ada dua tim yang belum sekalipun meraih kemenangan di Liga Domestik mereka. Salah satunya adalah Wolverhampton di Liga Inggris.
Sebuah kondisi yang relatif dapat dimaklumi mengingat kebijakan klub yang menjual sejumlah pemain terbaik pada bursa transfer musim panas tanpa mendatangkan pengganti yang sepadan. Namun, kejutan terbesar justru datang dari Italia, tepatnya dari Serie A ketika Fiorentina klub dengan sejarah panjang dan identitas kuat terpuruk dalam krisis performa yang begitu dalam dan tak terduga. Hingga memasuki pekan kelima belas Serie A, Fiorentina belum meraih satupun kemenangan.
Dari jumlah tersebut, La Fiola hanya mampu mengaleksi enam hasil imbang dan sembilan kekalahan. Catatan gol mereka pun sangat memprihatinkan. Dengan hanya mencetak 12 gol dan kebobolan 26 kali, statistik ini terasa kontras jika dibandingkan dengan kualitas kuat yang dimiliki.
Fiorentina diperkuat pemain-pemain berpengalaman dan berkelas seperti David De Gea yang pernah menjadi salah satu keeper terbaik dunia serta penyerang-penyerang ternama seperti Moyskine dan Edin Dzeko yang syarat pengalaman di level tertinggi sepakbola Eropa. Keterpurukan ini menjadi sulit diterima jika menilai status historis Fiorentina, klub asal Florence tersebut merupakan bagian dari The Seven Sisters, kelompok elit sepakbola Italia yang mendominasi Serie A pada era kejayaannya. Bahkan, dalam konteks yang lebih modern, Fiorentina menunjukkan perkembangan yang positif.
Pada musim sebelumnya, mereka finish di peringkat ke-6 Serie A, sebuah pencapaian yang tidak hanya melampaui ekspektasi tetapi juga menempatkan mereka di atas klub besar seperti AC Milan. Dengan fondasi tersebut, publik Florence wajar menaruh harapan besar bahwa Fiorentina akan melangkah lebih jauh dan tampil lebih kompetitif pada musim berikutnya. Harapan itu bertumpu pada sosok Rafael Palladino, pelatih muda yang dinilai membawa pendekatan segar dan progresif.
Musim 2024-2025 seharusnya menjadi tahun kedua Palladino mematangkan visinya di Stadio Artemio Franchi. Namun, alih-alih stabilitas, musim tersebut justru diwarnai oleh rangkaian keputusan managerial yang membingungkan. Palladino sempat mengundurkan diri di akhir musim, lalu secara mengejutkan kontraknya diumumkan diperpanjang hingga 2027.
Akan tetapi, kurang dari tiga minggu kemudian, ia benar-benar meninggalkan klub melalui kesepakatan bersama. Meskipun baru saja membawa Fiorentina meraih posisi Liga terbaik mereka dalam sembilan tahun terakhir dan melaju ke semifinal Liga Konferensi Eropa, kepergian Palladino memunculkan banyak tanda tanya. Banyak pihak menilai bahwa alasan dibalik perpisahan tersebut bukan semata-mata persoalan hasil di lapangan.
Perselisian internal, khususnya dengan direktur olahraga Daniel Prade, diakini menjadi penyebab utama. Perbedaan pandangan mengenai arah pembangunan tim, kebijakan transfer serta visi jangka panjang klub, disebut-sebut telah menciptakan ketegangan yang sulit diselesaikan. Dalam sebuah wawancara, Palladino menggambarkan sepak bola sebagai sebuah teka-teki yang hanya dapat berfungsi jika semua bagian saling cocok.
Ia mengaku bangga dengan apa yang telah dibangun bersama dengan Fiorentina, tetapi mengakui bahwa kondisi untuk melanjutkan kerjasama sudah tidak lagi tersedia karena perbedaan ide dan visi yang terlalu jauh. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa kepergiannya bukanlah keputusan yang mudah atau sepenuhnya ia kehendaki. Secara emosional, momen itu jelas menyakitkan.
Palladino memiliki hubungan yang sangat erat dengan para pemainnya, sebuah ikatan yang jarang terbentuk dalam waktu singkat. Reaksi para pemain menjadi bukti nyata, di mana banyak dari mereka menghubunginya melalui pesan dan panggilan video setelah kepergiannya diumumkan. Palladino bahkan mengakui bahwa respon tersebut membuatnya menangis, mencerminkan kedalaman relasi yang telah terjalin selama masa kerjanya di Florence.
Dari sisi teknis dan performa individu, kontribusi Palladino juga tidak dapat diabaikan. Di bawah arahannya, Moyskine mencatatkan musim terbaik sepanjang karirnya dengan torehan 25 gol di semua kompetisi. Sementara itu, David De Gea mengalami kebangkitan signifikan setelah periode sulit di Manchester United.
Ia tampil konsisten dan menjadi salah satu pilar utama tim. Penampilan impresif De Gea bahkan sempat memicu optimisme besar di kalangan pendukung dengan pembicaraan tentang kemungkinan Fiorentina menjadi penantang gelar Serie A. Namun, optimisme tersebut runtuh seiring perubahan drastis di level manajemen dan kepelatian. Pengganti Palladino yaitu Stefano Pioli gagal membawa stabilitas yang diharapkan.
Hubungannya dengan para pemain tampak tidak harmonis sejak awal, tercermin dari hasil buruk berupa hanya 2 poin dari 4 pertandingan pertama di Serie A. Meskipun Fiorentina sempat meraih kemenangan di 2 laga awal Liga Konferensi Eropa, performa domestik mereka tetap terpuruk. Kompetisi Eropa hanya menjadi pelipur laras sesaat, sementara Serie A terus menjadi sumber kekecewaan yang berulang. Dalam situasi tersebut, kemarahan publik Florent semakin memuncak.
Namun, sasaran utama amarah bukan hanya pelatih atau sistem permainan yang terus berubah, melainkan juga Daniel Prade, direktur olahraga itu, dianggap sebagai simbol kegagalan struktural yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Bentuk protes pun meluas dan semakin vulgar, mulai dari spanduk hingga stiker yang ditempel di sekitar stadio Artemio Franchi. Spanduk dan stiker tersebut menampilkan karikatur Prade dengan pesan agar ia segera angkat kaki dari klub.
Kelompok ultraskurva Viesiole telah lama menyuruhkan pengunduran dirinya, menudingnya bertanggung jawab atas penjualan pemain-pemain kunci, perubahan logo klub yang kontroversial, serta minimnya keterlibatan dengan para pendukung setia. Sayangnya, krisis Fiorentina tidak berhenti pada proses simbolik. Situasi berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih serius dan mengkhawatirkan.
Menurut laporan media, performa Fiorentina musim ini merupakan yang terburuk dalam 50 tahun terakhir di Serie A. Ketegangan antara klub dan sebagian pendukungnya melampaui batas kewajaran berubah menjadi ancaman nyata. Sejumlah pemain, staff, bahkan keluarga mereka dilaporkan menerima ancaman pembunuhan, yang ironisnya diduga berasal dari supporter klub sendiri. Fakta ini menempatkan Fiorentina dalam sorotan tajam, bukan hanya sebagai klub yang gagal secara sportif, tetapi juga sebagai institusi yang sedang menghadapi krisis moral dan keamanan.
Klub pun merespon dengan mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras segala bentuk ancaman dan intimidasi. Fiorentina menegaskan bahwa perilaku semacam itu tidak memiliki tempat dalam sipak bola maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Manajemen segera berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk memastikan keselamatan para pemain, staff dan keluarga mereka, serta menyatakan kesiapan untuk membawa kasus-kasus tersebut kerana hukum jika diperlukan.
Salah satu insiden yang paling mengitap perhatian publik adalah ancaman yang diterima oleh istri dari back Fiorentina, Dodo, yang kemudian dibagikan melalui media sosial dan memicu gelombang solidaritas sekaligus keprihatinan luas. Pada akhirnya, keruntuhan Fiorentina dalam kurun waktu satu tahun terakhir, menjadi cermin betapa rapuhnya sebuah proyek sipak bola ketika tidak ditopang oleh keselarasan visi, komunikasi internal yang sehat, serta manajemen krisis yang matang. Perjalanan La Fiola dari kandidat skudeto menjadi tim terpuruk Serie A, bukanlah sekedar soal kalah atau menang di lapangan, melainkan tentang kegagalan struktural yang berdampak luas dari ruang ganti, tribun stadion hingga kehidupan pribadi para pemain dan keluarganya.
Tanpa evaluasi mengiluruh dan keberanian untuk melakukan perubahan fundamental, Fiorentina beresiko terjebak lebih lama dalam spiral kehancuran yang sulit dihentikan, sekaligus mempertaruhkan identitas dan masa depan klub yang selama ini menjadi kebanggaan kota Florence.






