
Lensa Bola – Paris Saint-Germain kembali menegaskan dominasinya di panggung sepak bola dunia setelah sukses menjuarai Piala Interkontinental Musim 2024-2025 melalui kemenangan dramatis atas Flamengo. Dalam partai final yang berlangsung di Stadion Ahmad bin Ali al-Rayyan Doha, Qatar Kamis dini hari waktu Indonesia Barat, laga syarat gengsi ini mempertemukan PSG sebagai pemegang gelar Liga Champions Eropa dan Flamengo sebagai kampiun Copa Libertadores Amerika Selatan yang sebelumnya harus melewati laga Playoff Challengers melawan Piramid FC untuk mencapai final. Dari sisi teknis dan simbolik, final ini juga menjadi panggung penting bagi PSG dan pelatih mereka Louis Enrique yang baru saja dinobatkan sebagai pelatih terbaik FIFA 2025.
Enrique, menurunkan susunan pemain terbaik sejak awal pertandingan, mengandalkan Kapten Mark Winios sebagai pemimpin lini belakang, duet Gelandang Muda Joe Neves dan Vitynya di lini tengah, Fabian Ruiz sebagai pengatur tempo, serta dua penyerang sayap eksplosif Desire Doue dan Khvicha Kvaratskhelia yang menjadi ancaman konstan bagi pertahanan Flamengo. Di bawah mistar, Savonov kembali dipercaya dan klak membuktikan keputusan tersebut sangat krusial. Di kubu lawan, Flamengo yang dilatih oleh Philippe Louis, mantan bekiri Atletico Madrid dan Chelsea, juga tampil dengan komposisi berpengalaman, memadukan pemain-pemain yang syarat jam terbang Eropa seperti Jorginho dan Alexandro dengan talenta Amerika Selatan yang agresif dan disiplin.
Sejak fluid awal dibunyikan, kedua tim menunjukkan pendekatan menyerang tanpa rasa takut. PSG mencoba mendominasi penguasaan bola dan membangun serangan secara sabar, sementara Flamengo mengandalkan transisi cepat dan pressing tinggi. Peluang pertama lahir dari Kakili Kangin yang memaksa Agustin Rossi melakukan penyelamatan sederhana di susul momen kontroversial ketika Fabian Ruiz sempat merayakan gol pembuka sebelum dianulir VAR akibat pelanggaran dalam proses build-up.
Tekanan PSG akhirnya berbuah gol pada menit ke-38 melalui Kavica Koratzkielia yang memanfaatkan umpan silang rendah dari Desire Doue dan menyelesaikannya dengan tenang ketiang jauh, memperlihatkan kualitas individual serta koordinasi lini serang PSG yang kian matang sepanjang musim. Keunggulan 1-0 tersebut bertahan hingga turun minum, namun Flamengo tidak kehilangan kepercayaan diri dan tampil lebih agresif di babak kedua. Upaya mereka membuahkan hasil ketika Wasid menunjuk titik putih setelah Marquinhos dinilai melanggar Giorgian de Araskaeta di kotak penalti.
Giorgino maju sebagai Al Gojo dan dengan ketenangan khasnya mengeksekusi penalti untuk menyamakan skor menjadi 1-1, mengubah momentum pertandingan dan meningkatkan tekanan psikologi sebagai PSG. Luis Enrique kemudian merespons dengan memasukkan Osman Dembele dari bangku cadangan. Pemain yang baru saja dinobatkan sebagai The Best FIFA Men’s Player dan dampaknya langsung terasa, PSG hampir kembali unggul lewat kombinasi cepat Dembele dan Nuno Mendes, namun peluang emas tersebut gagal dimanfaatkan sang back kiri.
Flamengo pun tidak tinggal diam, dan hampir mencetak gol melalui serangan balik cepat yang diakhiri tembakan Pedro, meski bola melebar setelah sedikit terdefleksi. Drama semakin memuncak di masa injury time ketika Marquinhos yang biasanya tampil tenang dan berwibawa justru melakukan kesalahan krusial dengan gagal menyambut umpan silang Dembele dalam posisi ideal membelokan bola menjauh dari gawang dan memastikan laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Pada babak tambahan, kelelahan mulai terlihat dari kedua kubu, tetapi peluang tetap tercipta.
João Neves sempat menguji Rossi menjelang akhir babak pertama perpanjangan waktu, sementara Luis Araujo membalas di awal periode kedua dengan tembakan yang melambung di atas Mister Gawang. Dembele juga mendapatkan peluang emas, namun lagi-lagi penyelesaian akhir PSG tidak cukup klinis untuk mengakhiri laga sebelum adu penalti. Setelah 120 menit berlalu tanpa tambahan gol, pertandingan pun ditentukan lewat drama adu penalti.
Dalam adu penalti inilah, keeper cadangan Matvey Savonov tampil sebagai pahlawan sejati PSG. Ia menyelamatkan 4 dari 5 tendangan penalti pemain Flamengo dan memastikan Les Parisiens mengangkat trofi Piala Interkontinental. Secara keseluruhan, hanya 3 penalti yang berhasil dikonversi oleh kedua tim mencerminkan betapa besar tekanan yang dirasakan para eksekutor.
Performa Savonov bukan hanya menentukan di adu penalti, tetapi juga solid sepanjang waktu normal dengan sejumlah penyelamatan penting, menjadikannya sosok paling pantas mendapatkan sorotan utama. Di sisi lain, pertandingan ini menjadi malam yang sulit bagi Marquinhos. Ia terlihat gugup dan tidak berada dalam performa terbaiknya, menyebabkan penalti dan melewatkan peluang emas untuk menjadi pahlawan, meski kontribusinya sepanjang musim tetap tak terbantahkan.
Kemenangan ini sekaligus melengkapi musim luar biasa PSG 2024-2025 setelah sebelumnya mereka meraih gelar Liga Perancis, Cop de France, Cop de Champions, Liga Champions, dan UFA Super Cup. Dengan koleksi trofi tersebut, PSG menutup musim dengan hampir sempurna dan semakin mengukuhkan diri sebagai kekuatan global yang tidak hanya unggul secara finansial, tetapi juga matang secara taktik, mental, dan kedalaman squad. Di bawah arahan Louis Enrique, PSG kini tidak hanya lagi sekedar dipenuhi oleh bintang, melainkan tampil sebagai tim yang solid dan berkarakter, serta mampu menghadapi tekanan tinggi di panggung internasional.
Final Piala Interkontinental melawan Flamengo menjadi penutup ideal bagi musim bersejarah sekaligus simbol bahwa PSG telah berhasil menyeberangi batas ambisi domestik dan Eropa menuju legitimasi sejati sebagai klub elit dunia.






