Lensa Bola – Kejutan besar terjadi di Ligue 1 Perancis ketika juara bertahan Paris Saint-Germain dibantai salah satu pesaingnya yaitu Rennes. Bertandang ke Roazjon Park pada 14 Februari dini hari waktu Indonesia Barat, tim asuhan Luis Enrique harus mengakui keunggulan Stade Rennes dengan skor 3-1. Hasil tersebut bukan hanya memperkecil jarak di papan atas klasemen, tetapi juga memicu perdebatan internal yang menyoroti persoalan kekompakan tim di fase krusial musim 2025-2026.

Sejak awal pertandingan, PSG sebenarnya tampil dengan pendekatan agresif. Trio lini serang yang diisi Khvicha Kvaratskhelia, Ousmane Dembele dan Desire Doue berusaha mendominasi penguasaan bola serta menekan pertahanan tuan rumah. Namun, dominasi tersebut tidak diiringi dengan efektivitas penyelesaian akhir.

Rennes justru tampil disiplin, terorganisir dan efisien dalam memanfaatkan setiap celah yang muncul di lini belakang PSG. Pola permainan yang lebih pragmatis dari tuan rumah terbukti lebih ampuh dibandingkan dengan pendekatan ofensif PSG yang kurang tajam. Situasi Rennes menjelang laga ini sebenarnya tidak ideal.

Klub tersebut baru saja melakukan pergantian pelatih setelah performa yang tidak konsisten dalam beberapa pekan terakhir. Tongkat komando sementara dipegang oleh Sebastian Tambouret yang sebelumnya menangani tim cadangan. Pergantian mendadak itu sempat menimbulkan tanda tanya, tetapi justru menghadirkan energi baru di ruang ganti.

Para pemain Rennes tampil dengan determinasi tinggi dan disiplin taktis yang rapi, seolah ingin membuktikan bahwa mereka masih layak bersaing di papan atas. Gol pembuka tercipta melalui aksi individu Moussa Tamari. Ia berhasil melewati kawalan William Pacho sebelum melepaskan tembakan terarah ke sudut kiri bawah gawang.

Gol tersebut mengubah ritme pertandingan. PSG yang sebelumnya relatif nyaman mengontrol tempo mendadak berada dalam tekanan. Upaya untuk menyamakan kedudukan sempat hadir menjelang turun minum melalui sundulan João Neves yang memanfaatkan umpan silang dari Nuno Mendes.

Namun, bola hanya melenceng tipis dari sasaran. Babak pertama pun ditutup dengan keunggulan 1-0 bagi Rennes. Memasuki babak kedua, PSG berusaha meningkatkan intensitas serangan.

Namun, ketidakhati-hatian di lini belakang kembali menjadi masalah. Kesalahan kontrol Ilya Zabarnyi sempat membuka ruang bagi Arnaud Nordin untuk menciptakan peluang berbahaya. Walaupun peluang tersebut gagal dimaksimalkan, situasi itu memperlihatkan rapuhnya koordinasi lini pertahanan PSG.

Rennes akhirnya menggandakan keunggulan melalui tandukan keras Esteban Lepaul yang menyambut sepak pojok Sebastian Zimanski. Gol tersebut semakin menekan mental tim tamu. PSG sempat memperkecil ketertinggalan lewat gol dari Dembele.

Memanfaatkan umpan silang Mendes yang terdefleksi, pemain asal Perancis itu dengan sigap menaklukkan kiper Bryce Samba. Gol tersebut sempat menumbuhkan harapan kebangkitan. Akan tetapi, momentum itu tidak bertahan lama.

Breel Embolo memastikan kemenangan Rennes melalui sentuhan dada setelah bekerja sama dengan Ludovic Blas. Skor 3-1 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan. Secara matematis, PSG memang masih memimpin klasemen Ligue 1 dengan koleksi 51 poin.

Namun, keunggulan mereka atas pesaing terdekat kini hanya terpaut dua angka. Situasi ini menimbulkan tekanan tambahan, terutama karena Rennes memiliki peluang untuk memangkas jarak dalam pertandingan berikutnya. Sementara itu, Rennes naik ke posisi kelima dengan 34 poin.

Sebuah pencapaian yang signifikan mengingat situasi transisi yang mereka alami. Persaingan di papan atas pun semakin kompetitif, menandakan bahwa musim ini tidak akan berjalan mudah bagi PSG. Permasalahan PSG tidak hanya terjadi di kompetisi domestik.

Di kancah Eropa, performa mereka di Liga Champions UEFA juga belum sepenuhnya meyakinkan. Berstatus sebagai juara bertahan, mereka harus berjuang keras di fase grup sebelum akhirnya memastikan tempat di babak playoff 16 besar. Pada fase tersebut, PSG dijadwalkan menghadapi AS Monaco dalam duel dua leg yang sarat gengsi.

Laga tersebut akan menjadi ujian penting, terutama dalam konteks mentalitas dan kekompakan tim yang kini sedang dipertanyakan. Sorotan pasca kekalahan dari Rennes semakin tajam setelah Dembele secara terbuka mengkritik performa timnya. Ia menilai PSG bermain terlalu individualistis dan kurang mengedepankan kepentingan kolektif.

Menurutnya, jika setiap pemain hanya fokus pada ambisi pribadi, maka peluang untuk meraih gelar akan semakin kecil. Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan internal yang mungkin sudah lama terpendam, terutama dalam tim yang dihuni banyak pemain bintang dengan karakter kuat. Namun, Luis Enrique merespons dengan tegas.

Ia menyatakan bahwa pernyataan publik, baik dari pelatih maupun pemain, tidak akan memiliki arti jika tidak dibuktikan lewat aksi nyata di lapangan. Enrique menegaskan bahwa tidak ada satu pun individu yang boleh merasa lebih besar dari klub. Baginya, stabilitas dan otoritas harus tetap terjaga agar PSG dapat kembali fokus pada target utama.

Respons tersebut memperlihatkan upaya sang pelatih untuk meredam potensi perpecahan sekaligus menjaga disiplin internal. Kondisi ini menempatkan PSG pada situasi yang cukup krusial. Di satu sisi, mereka masih memiliki kualitas skuad yang mumpuni untuk bersaing di semua kompetisi.

Di sisi lain, tekanan eksternal dan dinamika internal dapat menjadi faktor penghambat jika tidak dikelola dengan baik. Dalam sepak bola modern, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh bakat individu, tetapi juga oleh soliditas tim dan konsistensi strategi. Beberapa pekan ke depan akan menjadi periode penentuan bagi PSG.

Mereka harus membuktikan bahwa kekalahan di Rennes hanyalah insiden, bukan indikasi penurunan performa yang lebih dalam. Laga melawan Monaco di Liga Champions akan menjadi panggung pembuktian sekaligus kesempatan untuk memulihkan kepercayaan diri. Jika mampu tampil kompak dan disiplin, PSG berpeluang mempertahankan reputasi sebagai salah satu kekuatan utama Eropa.

Sebaliknya, jika polemik internal terus berlanjut dan inkonsistensi permainan tidak segera diatasi, musim ini berpotensi menjadi periode yang penuh tekanan. Persaingan domestik yang semakin ketat serta tuntutan untuk mempertahankan gelar Eropa menuntut fokus dan kedewasaan kolektif. PSG kini tidak hanya ditantang oleh lawan-lawan di lapangan, tetapi juga oleh kemampuan mereka sendiri untuk menjaga persatuan dan semangat tim.

lion mesdon
Februari 15, 2026
Tags: ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *