
Lensa Bola – Kekalahan mengejutkan dialami oleh Inter Milan saat bertandang ke markas F. Calvo Doglim pada leg pertama playoff babak 16 besar Liga Champions UEFA musim 2025-2026. Bertanding di Asmaira Stadion, Kamis dini hari waktu Indonesia Barat, wakil Italia yang berstatus pemuncak klasemen Serie A sekaligus finalis Liga Champions musim sebelumnya itu harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor 1-3. Hasil ini tidak hanya mengguncang persaingan Eropa, tetapi juga semakin mengukuhkan Bodoglim sebagai fenomena dan kuda hitam paling berbahaya musim ini.
Sejak peluit awal dibunyikan, Inter sebenarnya tampil dominan dan langsung mengambil inisiatif serangan. Dominasi penguasaan bola dan tekanan tinggi yang diperagakan tim tamu menunjukkan kualitas serta pengalaman mereka di level tertinggi Eropa. Meski demikian, Bodoglim tidak gentar.
Klub asal kota kecil di utara Norwegia itu merespons dengan intensitas tinggi, pressing agresif, dan transisi cepat yang selama beberapa tahun terakhir menjadi identitas permainan mereka. Atmosfer stadion berkapasitas sekitar 8.000 penonton itu justru menjadi energi tambahan bagi tuan rumah. Dukungan publik di tengah suhu dingin khas kawasan lingkar Arktik menciptakan tekanan psikologis bagi skuad Inter yang terbiasa bermain di stadion besar Eropa.
Kebuntuan akhirnya pecah ketika umpan matang Hauga berhasil disambar Sondre Vett menjadi gol pembuka yang membawa Bodoglim unggul 1-0. Gol tersebut meningkatkan kepercayaan diri tuan rumah dan membuat permainan semakin terbuka. Inter hampir menyamakan kedudukan lima menit kemudian lewat sepakan voli Matteo Darmian, namun bola hanya membentur tiang gawang.
Upaya keras Inter akhirnya membuahkan hasil saat umpan silang Nicolo Barella memicu kemelut di kotak penalti dan bola liar disambar Pio Esposito dengan tendangan voli untuk mengubah skor menjadi 1-1. Gol tersebut menjaga asa Inter sekaligus menegaskan kualitas lini serang mereka. Hingga akhir babak pertama, kedua tim saling menekan dan menciptakan peluang. Skor imbang 1-1 bertahan sampai turun minum.
Memasuki babak kedua, efektivitas menjadi pembeda. Bodoglim tampil lebih tajam dalam memanfaatkan peluang. Sepakan Kasper Hock dari sudut sempit membuat tuan rumah kembali unggul 2-1 melalui sepakan keras Hauga dari sisi kotak penalti yang tak mampu dihentikan kiper Inter. Tak berhenti di situ, tiga menit berselang, Bodoglim memperlebar keunggulan menjadi 3-1 ketika berhasil lolos dari jebakan offside dan mengirimkan umpan matang kepada Hock yang dengan mudah menyontek bola ke gawang.
Dua gol cepat tersebut membuat Inter berada dalam tekanan besar. Meski berusaha meningkatkan tempo permainan dan melakukan sejumlah pergantian pemain ofensif, Inter gagal menembus solidnya pertahanan tuan rumah hingga peluit akhir dibunyikan. Kekalahan ini menempatkan Inter dalam situasi sulit karena pada leg kedua di Yusepe Meza mereka wajib menang dengan selisih lebih dari dua gol untuk memastikan tiket ke babak 16 besar. Di sisi lain, Bodoglim hanya perlu menjaga konsistensi dan menghindari kekalahan dengan margin lebih dari satu gol untuk melangkah ke fase berikutnya.
Kemenangan atas Inter semakin mempertegas reputasi Bodoglim sebagai sensasi Eropa musim ini. Dalam tiga pertandingan kompetitif mereka sepanjang 2026, klub Norwegia tersebut sukses menaklukkan Manchester City dengan skor 3-1 di kandang, mengalahkan Atletico Madrid 2-1 di laga tandang, dan kini membungkam Inter dengan skor identik 3-1. Catatan tersebut terbilang luar biasa, mengingat kompetisi domestik Norwegia, Eliteserien, telah berakhir sejak November akibat musim dingin ekstrem sehingga ritme pertandingan resmi mereka relatif terbatas.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalangi performa impresif di panggung tertinggi Eropa. Keberhasilan Bodoglim mencerminkan perubahan dinamika sepak bola modern, di mana organisasi permainan, keberanian memainkan talenta muda, serta penerapan taktik high pressing yang disiplin mampu menutup kesenjangan finansial dengan klub-klub elite. Sejak 2020, Bodoglim konsisten mendominasi kompetisi domestik Norwegia dan secara bertahap membangun fondasi kuat, baik dari sisi manajemen, pembinaan pemain, maupun filosofi bermain.
Kini, mereka memetik hasilnya di ajang paling prestisius Eropa. Sementara itu, Inter Milan harus melakukan evaluasi menyeluruh, baik dari sisi taktik maupun mentalitas, agar mampu membalikkan keadaan di leg kedua. Tekanan publik di kandang sendiri dapat menjadi motivasi sekaligus beban psikologis bagi skuad Nerazzurri.
Pertandingan berikutnya diprediksi berlangsung sengit karena Inter memiliki kualitas individu dan pengalaman untuk melakukan comeback. Namun, Bodoglim telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tim kejutan sesaat. Kisah klub dari kota kecil berpenduduk sekitar 54.000 jiwa ini menjadi simbol bahwa sepak bola tetap menyimpan romantisme dan ketidakpastian.
Dari stadion kecil di utara Norwegia, mereka berhasil mengguncang raksasa-raksasa Eropa dan memikat perhatian dunia. Apa pun hasil leg kedua nanti, perjalanan Bodoglim musim ini telah memperkaya narasi Liga Champions, menunjukkan bahwa determinasi, kerja kolektif, dan keberanian dapat menantang dominasi tradisional klub-klub besar.






