Lensa Bola – Pertandingan antara Leeds United dan Manchester City di Stadion Elland Road pada Minggu, 1 Maret dini hari waktu Indonesia Barat tidak hanya menghadirkan duel kompetitif di atas lapangan, tetapi juga memunculkan perbincangan luas mengenai toleransi, regulasi liga, dan penghormatan terhadap keberagaman dalam sepak bola modern.

Laga yang berlangsung sengit tersebut sempat dihentikan pada menit ke-12 untuk memberikan kesempatan kepada para pemain Muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadan berbuka tepat waktu. Keputusan wasit untuk menghentikan pertandingan sejenak itu merupakan bagian dari kebijakan yang telah diterapkan di Liga Inggris sejak 2021 yang memperbolehkan jeda singkat agar para pemain yang berpuasa dapat mengonsumsi makanan dan minuman ketika matahari terbenam.

Dalam skuad Manchester City yang tampil malam itu terdapat tiga pemain Muslim yang ikut bertanding. Mereka adalah Ryan Cherki, Rayan Aït-Nouri, dan Omar Marmoush. Meski kebijakan ini telah berjalan beberapa musim dan dianggap sebagai bagian dari komitmen Premier League terhadap inklusivitas, momen penghentian laga tersebut justru memancing reaksi dari sebagian suporter tuan rumah.

Dari tribun penonton terdengar siulan dan sorakan yang diarahkan saat pertandingan dihentikan. Sejumlah laporan media Inggris menyebut bahwa sebagian pendukung Leeds United merasa keputusan itu mengganggu momentum tim mereka yang sedang tampil agresif di awal laga. Secara statistik, pertandingan memang berjalan relatif seimbang.

Leeds United mampu memberikan tekanan berarti kepada Manchester City. Bahkan, catatan menunjukkan kedua tim sama-sama melepaskan 14 tembakan, dengan dua di antaranya mengarah tepat ke gawang. Intensitas tinggi sejak menit awal membuat sebagian suporter menilai penghentian singkat tersebut berpotensi memengaruhi ritme permainan.

Namun di sisi lain, banyak warganet dan pengamat sepak bola mengecam sikap cemoohan itu sebagai bentuk kurangnya empati terhadap praktik keagamaan pemain. Pertandingan akhirnya dimenangkan Manchester City dengan skor tipis 1-0 setelah Antoine Semenyo mencetak gol menjelang akhir babak pertama. Leeds United berusaha membalas melalui berbagai peluang yang dibangun Ethan Ampadu dan rekan-rekannya.

Namun hingga peluit panjang berbunyi, mereka gagal menyamakan kedudukan. Tambahan tiga poin membuat Manchester City menempel ketat Arsenal di puncak klasemen dengan hanya terpaut dua poin. Di luar hasil akhir, sorotan utama tetap tertuju pada insiden cemoohan tersebut.

Manajer Manchester City, Pep Guardiola, dalam konferensi pers pascalaga menyerukan pentingnya menghormati agama dan keberagaman di tengah masyarakat modern. Ia menegaskan bahwa regulasi Premier League memang mengizinkan penghentian singkat bagi pemain yang berpuasa dan hal itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Menurut Guardiola, para pemainnya seperti Ryan Cherki dan Rayan Aït-Nouri belum mengonsumsi asupan apa pun sepanjang hari sebelum jeda tersebut.

Ia mempertanyakan mengapa pemberian waktu satu atau dua menit untuk memenuhi kebutuhan dasar justru dipermasalahkan, seraya menegaskan bahwa sepak bola seharusnya mencerminkan nilai saling menghormati.

Dari kubu Leeds United, asisten pelatih Edmund Riemer yang menghadiri konferensi pers menggantikan Daniel Farke juga menyampaikan kekecewaannya mendengar adanya cemoohan dari tribun. Ia menilai bahwa sepak bola perlu terus berkembang menjadi ruang yang lebih inklusif dan terbuka terhadap perbedaan.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh organisasi antidisriminasi sepak bola Inggris, Kick It Out. Mereka menyebut insiden itu sangat mengecewakan.

Kick It Out menegaskan bahwa kebijakan jeda berbuka puasa merupakan bagian dari langkah konkret untuk memastikan komunitas Muslim merasa dihargai di lingkungan sepak bola profesional. Menurut mereka, dunia sepak bola masih membutuhkan edukasi berkelanjutan agar penerimaan terhadap keberagaman tidak berhenti pada regulasi tertulis, tetapi juga tercermin dalam sikap suporter dan seluruh elemen pertandingan.

Kebijakan Ramadan Break di Liga Inggris sendiri telah diberlakukan sejak 2021 sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah pemain Muslim di kompetisi papan atas tersebut.

Setahun kemudian, kompetisi tertinggi Jerman, Bundesliga, juga menerapkan aturan serupa. Dalam praktiknya, wasit akan menghentikan pertandingan pada momen yang relatif netral, misalnya ketika bola keluar lapangan atau terjadi pelanggaran ringan, sehingga tidak secara langsung menguntungkan atau merugikan salah satu tim. Penghentian biasanya berlangsung sangat singkat dan tidak sampai mengganggu alur pertandingan secara signifikan.

Klub-klub juga bekerja sama dengan ahli nutrisi dan tim medis untuk memastikan para pemain yang berpuasa tetap berada dalam kondisi optimal selama menjalani jadwal kompetisi yang padat.

Berbeda dengan Inggris dan Jerman, La Liga dilaporkan tidak akan menerapkan kebijakan penghentian pertandingan khusus untuk berbuka puasa. Pihak liga menyatakan bahwa pelaksanaan ibadah Ramadan menjadi urusan masing-masing pemain dan klub tanpa perubahan terhadap operasional pertandingan.

Artinya, tidak ada jaminan jeda khusus ketika waktu berbuka tiba sehingga pemain harus menyesuaikan strategi nutrisi mereka dengan jadwal pertandingan yang sudah ditetapkan. Keputusan ini menjadi sorotan karena kompetisi Spanyol juga dihuni banyak pemain Muslim, termasuk wonderkid Barcelona Lamine Yamal serta sejumlah pemain Real Madrid seperti Brahim Díaz, Antonio Rüdiger, dan Arda Güler.

Perbedaan pendekatan antara liga-liga top Eropa ini memperlihatkan bagaimana sepak bola berupaya menyeimbangkan antara kepentingan kompetisi dan penghormatan terhadap praktik keagamaan.

Di satu sisi, penghentian singkat pertandingan dinilai sebagai simbol komitmen terhadap inklusivitas dan pengakuan atas realitas multikultural dalam olahraga global. Di sisi lain, ada pandangan bahwa jadwal pertandingan profesional sulit untuk diubah dan tanggung jawab utama tetap berada di tangan klub untuk mengelola kondisi pemain.

Kasus yang terjadi dalam laga Leeds United melawan Manchester City menunjukkan bahwa kebijakan yang sudah dirancang untuk menghormati keberagaman pun tetap dapat memicu perdebatan di tingkat akar rumput.

Namun, sebagaimana ditegaskan Pep Guardiola, sepak bola modern hidup dalam masyarakat yang semakin majemuk sehingga nilai saling menghormati seharusnya menjadi fondasi bersama. Kontroversi ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju sepak bola yang benar-benar inklusif tidak berhenti pada aturan, melainkan membutuhkan kesadaran kolektif dari pemain, pelatih, ofisial, dan suporter untuk menjunjung tinggi toleransi di setiap momen pertandingan.

lion mesdon
Maret 9, 2026
Tags: ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *