
Pertandingan perempat final Piala FA musim 2025–2026 menghadirkan duel bergengsi antara Manchester City vs Liverpool yang berlangsung di Stadion Etihad Stadium pada Sabtu malam waktu Indonesia Barat. Laga ini menjadi sorotan publik sepak bola karena mempertemukan dua tim papan atas Inggris yang memiliki kualitas merata serta gaya permainan menyerang yang atraktif.
Manchester City datang dengan modal kemenangan 3-1 atas Newcastle United di babak sebelumnya, sementara Liverpool melaju ke fase ini setelah menaklukkan Wolverhampton dengan skor yang sama. Dengan latar belakang tersebut, pertandingan diprediksi berlangsung ketat, meskipun pada akhirnya hasil akhir justru menunjukkan dominasi satu pihak secara mencolok.
Sejak awal pertandingan, Liverpool tampil percaya diri dengan mengusung pendekatan menyerang. Mereka mengandalkan kreativitas dan kecepatan dari Mohamed Salah, Dominik Szoboszlai, dan Florian Wirtz, serta didukung oleh penyerang muda Hugo Ekitike. Kombinasi ini sempat membuat lini pertahanan Manchester City berada di bawah tekanan.
Peluang emas pertama hadir pada menit ke-13 ketika Mohamed Salah berhasil menembus kotak penalti dan mendapatkan ruang tembak yang ideal. Namun, penyelesaian akhirnya kurang sempurna sehingga bola melenceng dari sasaran. Kegagalan ini menjadi titik awal dari rangkaian peluang yang tak mampu dimaksimalkan oleh Liverpool sepanjang pertandingan.
Tekanan Liverpool berlanjut hingga pertengahan babak pertama. Pada menit ke-27, Hugo Ekitike memperoleh peluang emas setelah menerima umpan matang di area berbahaya. Sayangnya, tembakannya masih melambung di atas mistar gawang. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun Liverpool mampu menciptakan peluang, efektivitas penyelesaian akhir menjadi masalah utama yang menghambat mereka untuk unggul lebih dulu.
Sebaliknya, Manchester City yang tampil sabar justru mampu memanfaatkan momen dengan sangat efisien. Perubahan signifikan dalam jalannya pertandingan terjadi pada menit ke-39 ketika Manchester City mendapatkan hadiah penalti. Insiden ini bermula dari pelanggaran yang dilakukan oleh Virgil van Dijk terhadap Nico O’Reilly di dalam kotak terlarang. Keputusan wasit tersebut memberikan kesempatan emas bagi Manchester City untuk membuka keunggulan.
Erling Haaland yang maju sebagai eksekutor berhasil menjalankan tugasnya dengan tenang dan akurat sehingga membawa timnya unggul 1-0. Gol ini tidak hanya mengubah skor, tetapi juga memengaruhi momentum permainan secara keseluruhan.
Menjelang akhir babak pertama, Manchester City semakin menunjukkan efektivitasnya. Pada menit 45+2, Erling Haaland kembali mencetak gol melalui sundulan setelah menerima umpan dari Antoine Semenyo. Gol kedua ini memberikan keunggulan 2-0 bagi Manchester City saat turun minum sekaligus menjadi pukulan mental bagi Liverpool yang sebelumnya tampil lebih dominan dalam menciptakan peluang.
Memasuki babak kedua, Manchester City langsung mengambil inisiatif serangan dan tidak memberikan kesempatan bagi Liverpool untuk mengembangkan permainan. Pada menit ke-49, Antoine Semenyo berhasil mencetak gol ketiga setelah memanfaatkan umpan terobosan dari Rayan Cherki. Dengan penyelesaian yang tenang, ia mampu menaklukkan penjaga gawang Liverpool, Giorgi Mamardashvili. Gol ini semakin memperlebar jarak dan membuat Liverpool berada dalam posisi yang sangat sulit untuk mengejar ketertinggalan.
Dominasi Manchester City mencapai puncaknya pada menit ke-56 ketika Erling Haaland mencetak gol ketiganya dalam pertandingan tersebut sekaligus mengukir hat-trick. Gol ini menjadikan skor 4-0 dan secara praktis mengunci kemenangan bagi Manchester City.
Setelah tertinggal jauh, Liverpool berusaha untuk bangkit dan memperkecil ketertinggalan. Namun, upaya mereka tidak membuahkan hasil karena pertahanan Manchester City tampil sangat solid dan disiplin. Lini tengah Manchester City juga mampu mengontrol tempo permainan dengan baik sehingga Liverpool kesulitan menciptakan peluang berbahaya. Hingga peluit akhir dibunyikan, tidak ada gol tambahan yang tercipta dan pertandingan berakhir dengan skor telak 4-0 untuk kemenangan Manchester City.
Kemenangan ini memastikan langkah Manchester City ke babak semifinal Piala FA, di mana mereka akan kembali bermain di Stadion Wembley. Bagi Manchester City, pencapaian ini menjadi bukti konsistensi mereka dalam kompetisi domestik, terutama di bawah arahan Pep Guardiola yang telah membawa timnya sering tampil di Wembley dalam satu dekade terakhir. Konsistensi tersebut mencerminkan kekuatan tim dalam menjaga performa di level tertinggi.
Usai pertandingan, Erling Haaland mengungkapkan rasa puas dan bahagianya atas pencapaian hat-trick yang ia raih. Ia menyebut bahwa momen tersebut sangat spesial karena sudah lama tidak mencetak tiga gol dalam satu pertandingan. Selain itu, ia juga merasa bangga karena mampu melakukannya melawan Liverpool, yang dianggap sebagai salah satu tim terbaik di Inggris saat ini.
Haaland juga menyoroti pentingnya kemenangan ini dalam membawa timnya kembali ke Wembley, yang menurutnya selalu memberikan pengalaman luar biasa bagi para pemain.
Di sisi lain, Liverpool harus melakukan evaluasi menyeluruh atas kekalahan telak ini. Kegagalan memanfaatkan peluang di awal pertandingan menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap hasil akhir. Selain itu, lini pertahanan Liverpool juga melakukan sejumlah kesalahan krusial, termasuk pelanggaran yang berujung penalti oleh Virgil van Dijk serta kesulitan Ibrahima Konaté dalam mengantisipasi pergerakan Erling Haaland.
Kesalahan-kesalahan tersebut dimanfaatkan secara maksimal oleh Manchester City untuk mencetak gol. Dominik Szoboszlai turut mengakui bahwa timnya tampil di bawah performa terbaik dan melakukan banyak kesalahan. Ia menyatakan bahwa Liverpool sebenarnya memiliki peluang untuk mencetak gol, tetapi gagal memaksimalkannya.
Selain itu, ia juga menyoroti momen kebobolan gol kedua menjelang akhir babak pertama sebagai titik yang sangat memengaruhi mental timnya. Menurutnya, ketika tertinggal 2-0, peluang untuk bangkit menjadi semakin kecil, dan situasi tersebut semakin diperburuk dengan gol cepat Manchester City di awal babak kedua.
Pertandingan ini menunjukkan perbedaan mencolok antara efektivitas Manchester City dan ketidakefisienan Liverpool dalam memanfaatkan peluang. Manchester City tampil klinis dan disiplin, sementara Liverpool harus membayar mahal atas kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan sendiri. Hasil ini tidak hanya mengantarkan Manchester City ke semifinal, tetapi juga menjadi pengingat bagi Liverpool tentang pentingnya konsistensi dan ketajaman dalam menghadapi pertandingan besar.






