LensaBola – Timnas Belanda menutup kiprahnya di fase grup Piala Dunia 2026 dengan kemenangan meyakinkan 3-1 atas Tunisia dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Kansas City, Jumat pagi waktu Indonesia Barat.

Laga ini bukan sekadar memastikan langkah Belanda ke babak 32 besar sebagai juara grup, tetapi juga mencatatkan sejarah melalui gol bunuh diri Elias Kiri pada menit ketiga yang menjadi gol bunuh diri tercepat ketiga sepanjang sejarah Piala Dunia. Catatan tersebut menambah warna pada penampilan impresif pasukan Ronald Koeman yang tampil dominan sejak awal hingga peluit panjang dibunyikan.

Sebelum pertandingan dimulai, situasi kedua tim memang sudah berbeda. Tunisia telah dipastikan tersingkir setelah gagal meraih hasil maksimal pada dua pertandingan sebelumnya. Sebaliknya, Belanda datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah memastikan tiket ke fase gugur.

Meski demikian, pertandingan terakhir fase grup tetap memiliki arti penting bagi Belanda karena kemenangan akan mengukuhkan posisi mereka sebagai pemuncak klasemen Grup F dan memberikan keuntungan menghadapi lawan yang secara teori lebih ringan pada babak berikutnya.

Cuaca hujan yang mengguyur Stadion Kansas City tidak mengurangi intensitas permainan Belanda. Sejak peluit kick-off dibunyikan, tim asuhan Ronald Koeman langsung mengambil inisiatif serangan.

Belanda menguasai bola dan memaksa Tunisia bertahan sangat dalam untuk meredam tekanan yang datang dari berbagai sisi lapangan. Dominasi tersebut langsung membuahkan hasil ketika pertandingan baru berjalan tiga menit. Denzel Dumfries berhasil menusuk dari sisi kanan sebelum mengirimkan umpan tarik berbahaya ke depan gawang Tunisia.

Dalam upaya menghalau bola, Elias Kiri justru salah mengantisipasi arah datangnya umpan. Sapuan kaki kirinya malah mengarahkan bola ke gawang sendiri sehingga kiper Aymen Dahmen tidak memiliki kesempatan melakukan penyelamatan. Belanda pun unggul cepat 1-0.

Gol bunuh diri tersebut bukan hanya membuka keunggulan bagi Belanda, tetapi juga menciptakan rekor baru dalam sejarah turnamen. Gol Kiri tercatat sebagai gol bunuh diri tercepat ketiga sepanjang sejarah Piala Dunia. Catatan tersebut menjadi momen yang sulit dilupakan, baik bagi Tunisia maupun sejarah kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia.

Keunggulan cepat membuat Belanda semakin percaya diri dalam mengembangkan permainan. Hanya empat menit berselang, Belanda kembali menggandakan keunggulan.

Berawal dari tendangan bebas yang dieksekusi ke dalam kotak penalti, Virgil van Dijk berhasil memenangkan duel udara dan mengarahkan bola ke tengah area berbahaya.

Brian Brobbey yang berdiri tanpa pengawalan langsung menyambar bola menggunakan sepakan first-time kaki kanan yang tak mampu dihentikan oleh Dahmen. Skor berubah menjadi 2-0 dan Belanda semakin nyaman mengendalikan jalannya pertandingan.

Tunisia berusaha memberikan respons setelah tertinggal dua gol. Sementara itu, Belanda terus memperlihatkan permainan menyerang yang efektif. Kombinasi lini tengah yang digalang Tijjani Reijnders bersama rekan-rekannya mampu mengalirkan bola dengan cepat menuju lini depan.

Hingga turun minum, skor 2-0 tetap bertahan untuk keunggulan Belanda yang tampil jauh lebih dominan dibandingkan Tunisia.

Memasuki babak kedua, Belanda tidak mengendurkan intensitas permainan. Pasukan Ronald Koeman tetap menguasai jalannya pertandingan melalui penguasaan bola yang rapi dan tekanan tinggi di wilayah pertahanan lawan.

Akan tetapi, justru Tunisia yang berhasil mencuri gol pada menit ke-54. Gol tersebut bermula dari situasi sepak pojok yang dieksekusi oleh Hannibal Mejbri. Bola mengarah tepat ke kepala Hazem Mastouri yang berhasil memenangkan duel udara sebelum menyundul bola ke sudut gawang.

Kiper Bart Verbruggen tidak mampu menghalau sundulan tersebut sehingga Tunisia berhasil memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1.

Meski sempat mendapatkan tekanan setelah kebobolan, Belanda tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali menjauh. Pada menit ke-62, Belanda memperoleh tendangan sudut yang dieksekusi dengan baik oleh Tijjani Reijnders.

Bola melayang ke area tiang dekat dan berhasil disambut oleh Ian Maatsen melalui sundulan akurat yang mengecoh lini pertahanan Tunisia.

Gol tersebut mengubah kedudukan menjadi 3-1 sekaligus mengembalikan kendali penuh pertandingan ke tangan Belanda.

Setelah gol ketiga itu, Tunisia tetap mencoba memberikan perlawanan. Hannibal Mejbri beberapa kali menjadi motor serangan dengan kreativitasnya di lini tengah.

Di sisi lain, Belanda justru semakin agresif memasuki menit-menit akhir pertandingan. Pergantian pemain yang dilakukan Ronald Koeman mampu menjaga tempo permainan tetap tinggi. Belanda terus menekan pertahanan Tunisia melalui variasi serangan dari kedua sisi lapangan maupun melalui umpan-umpan pendek yang cepat.

Meskipun beberapa peluang tambahan tercipta, penyelesaian akhir yang kurang maksimal membuat skor tidak lagi berubah hingga pertandingan berakhir.

Kemenangan 3-1 tersebut memastikan Belanda mengakhiri fase grup sebagai juara Grup F dengan koleksi tujuh poin dari tiga pertandingan. Hasil ini sekaligus memperpanjang tren positif mereka setelah menunjukkan performa konsisten sepanjang babak penyisihan.

Sementara itu, Tunisia harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 tanpa mampu melaju ke fase gugur.

Keberhasilan Belanda lolos sebagai juara grup membuat mereka akan menghadapi Maroko pada babak 32 besar. Maroko sendiri melangkah ke fase gugur dengan status runner-up Grup C setelah tampil kompetitif sepanjang babak penyisihan.

Pertemuan kedua tim diprediksi menjadi salah satu pertandingan menarik karena sama-sama memiliki karakter permainan menyerang dan dihuni sejumlah pemain berkualitas.

Menjelang fase gugur, optimisme terhadap peluang Belanda semakin menguat. Berbagai media internasional mulai memasukkan Belanda sebagai salah satu kandidat serius peraih gelar juara dunia.

Penampilan impresif Belanda, terutama kemenangan telak 5-1 atas lawan sebelumnya, dianggap sebagai bukti bahwa skuad asuhan Ronald Koeman telah menemukan keseimbangan antara produktivitas di lini depan dan organisasi permainan.

Media olahraga Spanyol Marca menilai bahwa performa Belanda dalam dua pertandingan awal fase grup berhasil menghapus keraguan publik terhadap kapasitas mereka sebagai penantang gelar.

Sorotan terbesar tentu saja mengarah kepada Brian Brobbey. Penyerang muda tersebut tampil luar biasa sepanjang fase grup dengan kontribusi yang konsisten.

Media Spanyol AS bahkan memberikan julukan khusus kepada Brobbey sebagai bentuk apresiasi atas ketajamannya di depan gawang. Penampilannya dinilai menjadi salah satu faktor utama yang mengubah wajah permainan Belanda menjadi lebih agresif dan efisien.

Pujian serupa juga datang dari Italia. La Gazzetta dello Sport menyebut Brobbey sebagai “The Beast” berkat kekuatan fisik, kemampuan duel udara, dan ketajamannya dalam menyelesaikan peluang.

Media tersebut bahkan menyatakan bahwa pertanyaan mengenai peluang Belanda menjadi juara dunia kini dapat dijawab dengan optimisme tinggi.

Menurut mereka, kombinasi pemain berpengalaman seperti Virgil van Dijk dengan generasi muda seperti Brobbey memberikan keseimbangan ideal bagi skuad Ronald Koeman.

Media Inggris The Guardian juga memberikan perhatian terhadap keputusan taktis Ronald Koeman yang memilih menjadikan Brobbey sebagai ujung tombak utama. Keputusan tersebut dianggap berhasil memaksimalkan potensi lini depan Belanda yang sebelumnya dinilai kurang tajam dalam beberapa turnamen besar terakhir.

Sementara itu, The Athletic menilai bahwa komposisi lini serang Belanda sudah layak dipertahankan hingga fase-fase akhir turnamen. Meski demikian, media tersebut mengingatkan bahwa sektor pertahanan masih membutuhkan evaluasi karena Belanda beberapa kali kehilangan konsentrasi sehingga mudah kebobolan.

Analisis tersebut diperkuat oleh fakta bahwa Belanda telah kemasukan empat gol selama fase grup, sebuah catatan yang dapat menjadi masalah ketika menghadapi lawan-lawan yang lebih kuat.

BBC pun ikut mengulas perjalanan Belanda dengan mengingatkan sejarah panjang mereka sebagai tim yang berkali-kali menjadi runner-up Piala Dunia.

Media Inggris tersebut menilai Ronald Koeman memiliki peluang besar untuk mengakhiri penantian panjang publik Belanda terhadap gelar juara dunia pertama.

Dengan materi pemain yang dimiliki saat ini, ditambah kepercayaan diri yang terus meningkat, Belanda dinilai memiliki modal kuat untuk melangkah jauh di turnamen.

lion mesdon
Juni 26, 2026
Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *