Wasit sepak bola berdiskusi dengan perangkat VAR di stadion menjelang pertandingan

Perubahan Laws of the Game 2026/2027 perlu dipahami oleh klub, pemain, pelatih, perangkat pertandingan, dan penonton BRI Super League. Edisi terbaru yang diterbitkan IFAB mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Di Indonesia, I.League dan PSSI kemudian mengadakan workshop pembaruan aturan bagi pelatih kepala serta manajer klub peserta BRI Super League 2026/2027 pada 1 September 2026.

Sosialisasi tersebut penting karena tidak semua perubahan akan terlihat sebagai prosedur baru dalam setiap pertandingan. Sebagian merupakan penjelasan atas situasi yang sebelumnya menimbulkan perbedaan tafsir, sementara beberapa lainnya bergantung pada keputusan penyelenggara kompetisi. Dengan demikian, penerapan teknis di BRI Super League tetap harus merujuk pada regulasi PSSI dan I.League.

Mulai kapan Laws of the Game 2026/2027 berlaku?

IFAB menetapkan Laws of the Game edisi 2026/2027 berlaku mulai 1 Juli 2026. Artinya, kompetisi yang menggunakan edisi tersebut harus menyesuaikan pemahaman dan prosedur pertandingan dengan ketentuan terbaru.

Untuk BRI Super League 2026/2027, pembaruan itu disampaikan melalui workshop I.League dan PSSI. Pesertanya adalah pelatih kepala dan manajer klub. Tujuannya agar klub memiliki pemahaman yang selaras sebelum kompetisi berlangsung, terutama mengenai keputusan wasit, penggunaan VAR, dan situasi teknis yang dapat memengaruhi jalannya pertandingan.

Perubahan yang berpotensi terlihat di pertandingan

1. Peran VAR dalam kartu merah dan salah identitas

VAR pada edisi 2026/2027 dapat membantu wasit dalam situasi tertentu yang berkaitan dengan kartu merah akibat kartu kuning kedua. Bantuan ini dimungkinkan apabila keputusan kartu kuning kedua tersebut jelas keliru dan syarat peninjauan terpenuhi.

VAR juga dapat digunakan dalam kasus salah identitas. Situasi ini terjadi ketika wasit memberikan hukuman kepada pemain yang keliru. Namun, kewenangan tersebut bukan berarti semua kartu atau semua kesalahan keputusan dapat ditinjau ulang. Peninjauan tetap bergantung pada kategori insiden serta ketentuan yang berlaku.

Bagi klub, perubahan ini membuat komunikasi di lapangan semakin penting. Pemain dan pelatih perlu memahami bahwa protes terhadap keputusan wasit tidak otomatis menghasilkan review. Proses tetap berada dalam kewenangan perangkat pertandingan dan harus memenuhi syarat yang ditetapkan Laws of the Game.

2. Opsi peninjauan tendangan penjuru

Edisi 2026/2027 memberikan opsi bagi kompetisi untuk melakukan peninjauan VAR atas keputusan tendangan penjuru yang jelas keliru. Akan tetapi, review hanya dapat dilakukan apabila prosesnya segera selesai dan tidak menunda pelaksanaan restart.

Ketentuan ini perlu dibedakan dari penggunaan VAR untuk insiden besar seperti gol, penalti, atau kartu merah langsung. Peninjauan tendangan penjuru merupakan pilihan kompetisi, bukan kewajiban otomatis. Karena itu, pembaca tidak boleh menganggap semua pertandingan BRI Super League pasti menggunakan mekanisme tersebut.

Penerapannya mengikuti keputusan dan regulasi PSSI serta I.League. Jika pilihan itu digunakan, pelaksanaannya tetap harus menjaga kelancaran pertandingan. Restart tidak boleh tertunda hanya karena pemeriksaan yang berlangsung terlalu lama.

3. Klarifikasi mengenai bola dropped ball

Laws of the Game 2026/2027 juga memberikan klarifikasi mengenai tim yang menerima bola dropped ball setelah permainan dihentikan. Dropped ball digunakan untuk memulai kembali permainan dalam kondisi tertentu ketika pertandingan dihentikan dan restart khusus diperlukan.

Klarifikasi ini membantu mengurangi perbedaan pemahaman antara pemain, wasit, dan tim teknis. Klub perlu memasukkan situasi tersebut dalam pembahasan taktik dan simulasi latihan, terutama agar pemain mengetahui cara bersikap ketika wasit menghentikan permainan lalu menentukan dropped ball.

Dari sudut pandang penonton, keputusan tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kesalahan wasit. Penentuan restart mengikuti kondisi penghentian permainan dan ketentuan Laws of the Game yang berlaku.

4. Double touch tidak sengaja saat penalti

Ketentuan mengenai double touch oleh penendang penalti juga diperjelas. Double touch berarti penendang menyentuh bola untuk kedua kalinya sebelum bola disentuh pemain lain. Dalam praktiknya, sentuhan kedua dapat terjadi secara tidak sengaja, misalnya karena gerakan penendang saat mengeksekusi penalti.

Perubahan dan klarifikasi ini penting karena konsekuensi double touch tidak boleh dinilai tanpa melihat situasi sebenarnya. Wasit perlu membedakan sentuhan kedua yang disengaja dan yang tidak disengaja berdasarkan ketentuan terbaru. Pemain juga perlu memahami teknik eksekusi agar tidak menimbulkan persoalan tambahan saat penalti.

5. Advantage ketika peluang mencetak gol tetap berujung gol

Perubahan lain berkaitan dengan penerapan advantage pada pelanggaran yang menggagalkan peluang mencetak gol. Jika wasit menerapkan advantage dan serangan tersebut tetap menghasilkan gol, pemain yang melakukan pelanggaran tidak otomatis menerima kartu kuning untuk pelanggaran itu.

Penjelasan ini menegaskan hubungan antara keuntungan yang diberikan wasit dan hasil akhir serangan. Ketika gol tercipta setelah advantage diterapkan, hukuman disiplin untuk pelanggaran tersebut tidak otomatis berupa kartu kuning. Meski demikian, penilaian wasit tetap mengikuti kategori pelanggaran dan ketentuan disiplin lain yang relevan.

Kamera tubuh wasit bukan kewajiban otomatis

Salah satu hal yang berpotensi menimbulkan salah paham adalah penggunaan kamera tubuh wasit. Laws of the Game 2026/2027 memungkinkan kamera tubuh digunakan sebagai opsi kompetisi. Artinya, perangkat tersebut tidak otomatis wajib dipakai dalam semua pertandingan atau semua liga.

Keputusan penggunaan kamera tubuh mengikuti kebijakan dan regulasi kompetisi yang bersangkutan. Dalam konteks BRI Super League, pembaca perlu menunggu ketentuan resmi dari penyelenggara dan otoritas terkait, bukan menyimpulkan bahwa kamera tubuh pasti tersedia pada setiap laga.

Apa dampaknya bagi klub BRI Super League?

Perubahan aturan ini menuntut klub memperbarui pemahaman internal. Pelatih kepala dan manajer perlu memastikan informasi dari workshop diteruskan kepada pemain serta staf teknis. Beberapa langkah yang relevan antara lain:

  • membahas situasi VAR dan batas kewenangan peninjauan;
  • melatih respons pemain terhadap dropped ball dan restart pertandingan;
  • meninjau ulang prosedur eksekusi penalti agar tidak terjadi double touch;
  • menjelaskan konsekuensi penerapan advantage kepada pemain;
  • memastikan seluruh staf memahami bahwa opsi seperti review tendangan penjuru dan kamera tubuh bergantung pada keputusan kompetisi.

Pemahaman yang seragam dapat mengurangi protes, kesalahpahaman, dan keterlambatan ketika keputusan penting dibuat. Bagi pemain, inti perubahan bukan hanya menghafal aturan, tetapi mengetahui bagaimana aturan tersebut diterapkan dalam situasi pertandingan.

Kesimpulan

Perubahan Laws of the Game 2026/2027 membawa sejumlah penyesuaian penting bagi BRI Super League, terutama dalam penggunaan VAR, penanganan salah identitas, dropped ball, double touch saat penalti, dan penerapan advantage. Namun, beberapa ketentuan merupakan opsi yang baru berlaku jika dipilih oleh kompetisi.

Karena itu, penerapan akhir di BRI Super League harus mengikuti regulasi PSSI dan I.League. Workshop yang digelar pada 1 September 2026 menjadi bagian dari upaya menyamakan pemahaman klub sebelum kompetisi berjalan. Bagi penonton, memahami perbedaan antara aturan umum dan opsi kompetisi akan membantu membaca keputusan wasit secara lebih tepat.

lensabola
September 27, 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *