
Lensa Bola – Arsenal kembali menegaskan status mereka sebagai kandidat kuat juara Liga Inggris musim 2025-2026, setelah meraih kemenangan dramatis 2-1 atas Wolverhampton. Bermain di Emirates Stadium pada Minggu Dinihari waktu Indonesia Barat, pasukan Mikkel Arteta harus melalui pertandingan yang tidak mudah, sebelum akhirnya memastikan 3 poin penuh lewat gol di masa tambahan waktu. Sejak awal agar, Arsenal tampil dominan dengan penguasaan bola yang tinggi.
Arteta menurunkan formasi 4-3-3 dengan mengandalkan trio penyerang Bukayosaka, Victor Gyokeres dan Gabriel Martinelli, sementara Declan Rice menjadi pengatur tempo di lini tengah. Di sisi lain, Wolverhampton yang datang sebagai tim juru kunci klasmen, mengusung pendekatan lebih bertahan dan mengandalkan serangan balik cepat dengan tujuan utama mencuri poin dan meraih kemenangan perdana mereka di musim ini. Dominasi Arsenal sejak menit awal terlihat jelas, namun efektivitas serangan masih menjadi masalah.
Hingga pertengahan babak pertama, the Gunners kesulitan menciptakan peluang bersih meski terus menekan pertahanan Wolverhampton. Sampai menit ke-26, Arsenal hanya mampu melepaskan 2 tembakan dan tidak satu pun yang benar-benar mengancam gawang lawan. Wolverhampton justru sempat memberikan ancaman melalui aksi individu Wang Hichan yang mengiring bola dari tengah lapangan sebelum melepaskan tembakan jarak jauh, meski upaya tersebut masih dapat diamankan dengan mudah oleh keeper Arsenal, David Raya.
Arsenal memperoleh beberapa kesempatan melalui situasi bola mati, terutama dari tendangan sudut, namun rapatnya barisan pertahanan Wolverhampton membuat peluang tersebut tidak berbuah gul. Menjelang akhir babak pertama, The Clan Rice hampir memecah kebuntuan lewat tendangan bebas dari jarak ideal. Tetapi, keeper Wolverhampton, Sam Johnstone, tampil sigap dan berhasil mengagalkan peluang tersebut.
Hingga Wasit meniuplui tanda turun minum, skor imbang 0-0 tetap bertahan. Memasuki babak kedua, Arsenal meningkatkan intensitas permainan dengan tempo yang lebih cepat dan tekanan yang lebih agresif. Para pemain sayap lebih aktif melakukan penetrasi ke kotak penalti, sementara lini tengah terus mendorong bola ke area pertahanan lawan.
Tekanan bertubi-tubi akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-70, meski dengan cara yang tidak biasa. Arsenal memecah kebuntuan melalui gol buru diri dari Sam Johnstone yang berawal dari tendangan sudut Bukayosaka. Bola hasil sepak pojok tersebut ditepis oleh Johnstone, membentur tiang gawang, lalu mengenai punggung sang keeper sebelum akhirnya masuk ke dalam gawang.
Gol ini disambut dengan sorakan lega dari para pendukung Arsenal dan mengangkat kepercayaan diri tim Tuan Rumah. Setelah unggul, Arsenal tampil lebih lepas dan nyaris menggandakan keunggulan melalui Leandro Trossart. Namun, tendangannya masih melebar tipis dari gawang Wolverhampton.
Ketika pertandingan tampak akan berakhir dengan kemenangan tipis Arsenal, Wolverhampton justru berhasil mencuri gol penyeimbang pada menit ke-90. Tolu Arokoder sukses menanduk bola hasil umpan silang Mateusz Mane, memanfaatkan kelengahan lini belakang Arsenal dan membuat skor kembali imbang 1-1. Gol tersebut menjadi pukulan bagi Arsenal mengingat waktu normal pertandingan hampir habis dan tekanan mental semakin meningkat.
Namun, Arsenal menunjukkan karakter kuat sebagai tim papan atas. Alih-alih kehilangan fokus, mereka langsung merespon dengan meningkatkan intensitas serangan di sisa waktu tambahan. Upaya tersebut berbuah manis pada menit ke-90 plus 4 ketika Bukayosaka kembali menjadi kreator lewat umpan silang dari sisi kanan.
Gabriel Jesus mencoba menyambut bola dengan sundulan, tetapi bola lebih dulu mengenai Yerson Mosquera dan berbelok masuk ke gawang Wolverhampton, menghasilkan gol bunuh diri kedua dalam laga ini sekaligus memastikan kemenangan dramatis bagi Arsenal. Hasil ini membuat Arsenal semakin nyaman di puncak klasmen dengan koleksi 36 poin dari 16 pertandingan, menegaskan konsistensi mereka sepanjang musim, dan memperkuat posisi sebagai penantang serius gelar juara. Sebaliknya, Wolverhampton kian terpuruk di dasar klasmen dengan hanya 2 poin dari 16 laga dan belum meraih satu pun kemenangan.
Sebuah situasi yang semakin menekan tim dan staff pelatih mereka. Di balik kemenangan tersebut, sorotan juga tertuju pada performa Victor Gyokeres yang kembali gagal mencetak gol. Striker asal Swedia yang didatangkan dari Sporting CP dengan nilai transfer mencapai 73 juta euro itu baru mengoleksi 6 gol sejak bergabung dengan Arsenal.
Gol terakhirnya tercipta lebih dari sebulan lalu saat Arsenal mengalahkan Burnley 2-0 sebelum ia harus menampi akibat cedera otot yang membuatnya absen dalam 4 pertandingan. Setelah pulih, Diokeres belum mampu menemukan kembali ketajaman terbaiknya dan harus menjalani beberapa laga tanpa gol. Meski demikian, Mikkel Arteta tetap menunjukkan sikap tenang dan sabar.
Ia menegaskan bahwa adaptasi di Liga Inggris memang membutuhkan waktu, terutama bagi pemain yang tidak menjalani pramusim bersama tim dan harus berhadapan dengan tuntutan fisik (5:09) dan intensitas permainan yang berbeda. Arteta menilai tugas tim pelatih adalah menempatkan Diokeres dalam kondisi terbaik agar potensinya bisa keluar secara maksimal seraya mengakui bahwa gol menjadi faktor penting bagi kepercayaan diri seorang penyerang. Menurutnya, Diokeres sangat ingin mencetak gol dan tekanan tersebut merupakan hal yang wajar.






