Lensa Bola – Pertemuan klasik antara Barcelona dan Real Madrid, kembali menghadirkan drama yang syarat dengan gengsi ketika kedua raksasa Spanyol itu berduel di final Super Spanyol pada Senin 12 Januari dini hari waktu Indonesia Barat. Bermain di King Abdullah Sport City Arab Saudi, laga El Clasico kali ini bukan sekedar penentuan juara, tetapi juga menjadi ajang pembuktian kualitas individu para bintang serta mentalitas tim di momen krusial. Barcelona yang ditangani Hansi Flick, mengusung pendekatan ofensif melalui formasi 4-3-3 dengan mengandalkan Triola Minyamal, Robert Lewandowski, dan Rapinha di lini depan.

Kombinasi kecepatan, kreativitas, dan insting goal menjadi tumpuan belaugrana untuk menekan sejak awal pertandingan. Di sisi lain, Real Madrid Asuhan Xabi Alonso menggunakan formasi serupa menempatkan Vinicius Junior, Rodrigo, dan Gonzalo Garcia sebagai motor serangan. Sementara Kylian Mbappe yang baru pulih dari Cedera memulai laga dari bangku cadangan.

Namun, kehadirannya tetap menjadi sorotan karena banyak pihak menanti perannya di laga besar ini. Sejak peluit pembuka dibunyikan, ritme pertandingan langsung berlangsung cepat. Kedua tim sama-sama berupaya mengambil inisiatif melakukan tekanan tinggi dan memainkan transisi yang agresif.

Madrid memperoleh peluang pertama pada menit ke-14 ketika Vinicius mendapatkan ruang tembak di kotak penalti dan tinggal berhadapan dengan keeper Barcelona Joan Garcia. Namun, keeper muda tersebut bergerak cepat mempersempit sudut tembak hingga mampu menggagalkan peluang emas itu. Barcelona merespon dengan tekanan yang tak kalah berbahaya.

Pada menit ke-26, Rafinha melepaskan sepakan jarak jauh yang memaksa Thibaut Courtois melakukan penyelamatan penting. Momen itu menjadi pertanda bahwa Barcelona tidak hanya mengandalkan kombinasi pendek tetapi juga berani mencoba peluang dari luar kotak penalti. Pada menit ke-35, Rafinha kembali mendapatkan kesempatan emas melalui skema serangan balik cepat.

Berawal dari umpan lambung Lamin Yamal dari sisi kanan, Rapinha yang menusuk dari sisi kiri melepaskan tembakan ke tiang jauh meski kali ini masih melebar. Namun, kegagalan itu segera tertebus satu menit kemudian dalam situasi yang hampir serupa. Rapinha kembali menusuk dari sisi kiri berhasil melewati Aurélien Tchouaméni dan melepaskan tembakan terukur ke pojok kanan bawah gawang Courtois membawa Barcelona unggul 1-0.

Mementum semakin memihak kepada Barcelona ketika Fermin Lopez nyaris menggandakan keunggulan di menit ke-40. Tetapi, Courtois masih mampu menepis bola. Drama kemudian memuncak pada masa injury time babak pertama.

Real Madrid menyamakan kedudukan melalui aksi brilliant Vinicius yang menyayat sisi kanan pertahanan Barcelona melewati Eric Garcia dan melepaskan tembakan mendatar ke tiang jauh yang tak mampu dijangkau oleh Joan Garcia. Skor menjadi 1-1, tetapi situasi belum berhenti di sana. Tiga menit berselang, Barcelona kembali unggul 2-1.

Lewandowski menerima umpan Pedri dari sisi kiri mengontrol bola dengan tenang lalu mencungkil bola melewati Courtois. Akan tetapi, babak pertama akhirnya ditutup dengan skor 2-2 setelah Gonzalo Garcia memanfaatkan kemelut di kotak penalti Barcelona. Bola liar yang sempat membentur tiang langsung disambar dan masuk ke gawang, mengakhiri 45 menit pertama dengan 4 gol dan tensi yang sangat tinggi.

Memasuki babak kedua, intensitas permainan tetap terjaga meski jumlah gol berkurang. Kedua tim melakukan penyesuaian taktik, memperbaiki organisasi pertahanan, serta lebih berhati-hati dalam membangun serangan. Barcelona kembali mengambil alih keunggulan setelah Rapinha mencetak gol keduanya di laga ini.

Sepakannya membentur Raul Asensio dan berubah arah, mengecoh Courtois sehingga skor berubah menjadi 3-2. Meski ada unsur defleksi, keberhasilan Rapinha menciptakan peluang dan mengambil keputusan cepat tetap menjadi faktor utama terciptanya gol tersebut. Keunggulan ini membuat Barcelona bermain lebih disiplin sambil sesekali melakukan serangan balik.

Real Madrid meningkatkan intensitas tekanan, mempercepat distribusi bola, dan berupaya memanfaatkan kecepatan Vinicius serta Rodrigo untuk menembus pertahanan Barcelona. Namun, lini belakang Blaugrana tampil cukup solid, mampu memotong umpan-umpan kunci, dan menjaga area berbahaya tetap terkendali. Ketegangan kembali meningkat di masa injury time ketika Frenkiedi yang menerima kartu merah akibat pelanggaran keras.

Barcelona terpaksa bermain dengan 10 pemain pada menit-menit akhir pertandingan. Situasi yang dimanfaatkan Madrid untuk menekan habis-habisan demi mencari gol penyama kedudukan. Meski demikian, pasukan Hansi Flick menunjukkan kedewasaan dalam bertahan.

Mereka bermain rapat, mempersempit ruang tembak, dan menjaga konsentrasi hingga peluit akhir dibunyikan. Real Madrid gagal menemukan gol tambahan, dan Barcelona memastikan kemenangan 3-2 yang membawa mereka meraih trofi piala Superspanyol. Gelar ini bukan hanya sekedar trofi, tetapi juga mengukuhkan Barcelona sebagai klub tersukses dalam sejarah kompetisi tersebut dengan koleksi 16 gelar.

Secara statistik, dominasi Barcelona terlihat jelas, terutama dalam penguasaan bola. Mereka mencatatkan 71 persen ball position, jauh di atas Real Madrid yang hanya memperoleh 29 persen. Barcelona juga melepaskan 14 tembakan dengan 8 tempat sasaran, sedangkan Real Madrid menghasilkan 10 tembakan dan 8 diantaranya mengarah ke gawang.

Data ini menunjukkan bahwa sekalipun Madrid cukup efektif dalam menciptakan peluang kontrol permainan lebih banyak dipegang Barcelona. Kemenangan ini sekaligus menjadi pembuktian bagi Hansi Flick. Pelatih asal Jerman tersebut berhasil memadukan energi para pemain muda seperti Lamine Yamal dengan pengalaman para pemain senior seperti Lewandowski dan Rapinha.

Struktur permainan terlihat lebih jelas, pressing yang terukur, sirkulasi bola yang rapi, serta keberanian mengontrol tempo pertandingan di momen penting. Di kubu sebrang, kekalahan Madrid menghadirkan dampak psikologis yang besar bagi supporter. Media sosial dipenuhi kritik pedas kepada Xabi Alonso yang dinilai belum menemukan formula ideal bagi skuadnya.

Banyak penggemar menyuarakan kekecewaan terhadap pendekatan taktik yang dianggap tidak efektif dalam laga besar. Sebagian bahkan menyemakan Alonso dengan Rafael Benitez pada periode yang kurang populer di klub, menggambarkan betapa tingginya ekspektasi yang harus dihadapi pelatih Madrid. Alonso sendiri baru ditunjuk sebagai pelatih Real Madrid pada akhir musim 2024-2025, menggantikan Carlo Ancelotti yang pergi setelah gagal mempersembahkan satu pun gelar.

Reputasi Alonso yang sempat bersinar bersama dengan Bayer Leverkusen membuat publik berharap banyak, namun masa awal kepemimpinannya di Santiago Bernabeu masih naik turun. Kekalahan di laga final melawan Barcelona semakin memperbesar tekanan dan keraguan terhadap kemampuannya. Kegagalan dalam pertandingan besar seringkali langsung memicu evaluasi besar-besaran.

El Clasico selalu memiliki nilai simbolik, di mana kemenangan berarti lebih dari sekedar 3 poin atau 1 trofi, melainkan menyangkut harga diri klub dan identitas supporter. Oleh karena itu, kekalahan di final ini memiliki dampak emosional yang kuat. Bersama Alonso, Madrid masih terlihat mencari keseimbangan antara agresivitas menyerang dan stabilitas bertahan.

Rapinha tampil sebagai bintang utama bagi Barcelona dengan 2 gol yang sangat menentukan hasil akhir, sedangkan Lewandowski kembali membuktikan kelasnya sebagai penyerang dengan penyelesaian yang tenang. Dari kubu Madrid, Vinicius tetap menjadi ancaman utama, meski kontribusinya belum cukup menghindarkan timnya dari kekalahan. Dari perspektif taktik, laga ini memperlihatkan adu ide dua pelatih modern Eropa.

Hansi Flick mengedepankan penguasaan bola, struktur posisi serta pemanfaatkan ruang antarlini. Alonso mengandalkan transisi cepat dan serangan balik eksplosif, tetapi celah di pertahanan dan kurangnya konsistensi membuat Madrid kesulitan menjaga keunggulan. Hasil akhir menunjukkan bahwa penguasaan tempo dan kestabilan permainan Barcelona menjadi faktor penentu.

Kemenangan ini menambah bab baru dalam sejarah panjang rivalitas El Clasico. Barcelona kembali menegaskan diri sebagai penguasa piala Super Spanyol, sementara Real Madrid memasuki fase refleksi dan evaluasi.

lion mesdon
Januari 13, 2026
Tags: , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *