
Lensa Bola – Dinamika sepak bola profesional kerap menghadirkan kisah kontras dalam satu panggung kompetisi yang sama. Liga Turki musim ini menjadi contoh nyata bagaimana dua pemain dengan latar belakang dan reputasi besar dapat mengalami arah perjalanan karir yang sangat berbeda. Di satu sisi, keeper asal Kamerun Andre Onana tengah menghadapi tekanan hebat setelah serangkaian penampilan yang dinilai menurun bersama dengan Trabzonspor.
Di sisi lain, gelandang serang Spanyol Marco Asensio justru menemukan kembali konsistensi dan pengaruhnya di lapangan bersama dengan Venerbahce. Perbandingan ini bukan sekadar soal statistik, melainkan juga mencerminkan bagaimana faktor mental, kepercayaan tim serta stabilitas peran mempengaruhi performa seorang pemain. Sorotan terhadap Onana memuncak setelah laga pekan ke-2 Liga Turki di Stadion Paparapar ketika Trabzonspor menjamu Venerbahce.
Pertandingan tersebut sejatinya dimulai dengan optimisme tuan rumah setelah Ernest Muki mencetak gol cepat pada menit ke-6. Keunggulan itu memberi sinyal positif bagi Trabzonspor untuk bisa mengamankan tiga poin penting di kandang. Namun, situasi berubah drastis ketika lini pertahanan mulai kehilangan koordinasi dan Venerbahce meningkatkan intensitas serangan.
Apalagi, kiper tuan rumah Andre Onana kebobolan tiga gol hanya dari tiga tembakan tepat sasaran. Efektivitas maksimal lawan dalam memanfaatkan peluang menjadi catatan pahit bagi penjaga gawang berusia 29 tahun tersebut. Tidak hanya angka kebobolan yang menjadi sorotan, tetapi juga sejumlah keputusan teknis yang dinilai kurang tepat.
Dalam beberapa momen, Onana melakukan operan build-up yang tidak akurat sehingga memicu tekanan balik cepat dari Venerbahce. Ia juga sempat meninggalkan kotak penalti dalam situasi yang dianggap terlalu berisiko, memaksakan timnya bekerja ekstra untuk menutup ruang kosong. Pada saat skor imbang 2-2, Onana menerima kartu kuning yang semakin meningkatkan tekanan psikologis di fase krusial pertandingan.
Rangkaian kejadian tersebut membuat sebagian penggemar menilai penampilannya sebagai salah satu titik terendah sejak bergabung dengan Trabzonspor sebagai pemain pinjaman dari Manchester United. Kritik dari supporter berkembang pesat di media sosial. Sebagian menyebut performa Onana mengalami penurunan sejak ia tidak masuk dalam skuad Piala Afrika yang diyakini berdampak pada moral dan rasa percaya dirinya.
Statistik turut memperkuat persepsi tersebut. Menurut laporan jurnalis Turki, tingkat keberhasilan penyelamatan Onana musim ini berada di angka 67%, menjadikannya salah satu catatan terendah dalam karir profesionalnya. Lebih mengkhawatirkan lagi, dalam tujuh pertandingan terakhir setelah Desember, angka itu turun sekitar 45%.
Penurunan drastis ini menimbulkan pertanyaan mengenai stabilitas mental dan konsistensi teknis sang kiper. Sebagai penjaga gawang modern, Onana sebenarnya dikenal memiliki kemampuan distribusi bola yang baik sejak memperkuat Inter Milan. Ia piawai memulai serangan dari belakang dan berani mengambil risiko dengan umpan pendek maupun panjang.
Namun, dalam konteks Trabzonspor musim ini, keberanian tersebut kerap berubah menjadi boomerang ketika eksekusinya tidak presisi. Situasi ini menunjukkan bahwa gaya bermain progresif memerlukan koordinasi dan kepercayaan penuh dari lini belakang. Tanpa dukungan struktur tim yang solid, risiko akan tampak lebih besar daripada manfaatnya.
Dampak dari inkonsistensi ini tidak hanya dirasakan di Turki, tetapi juga berimplikasi pada masa depan Onana di Inggris. Manchester United dikabarkan telah mengambil sikap tegas terkait masa depannya. Setelah dua musim penuh dinamika sejak direkrut pada musim panas 2023, manajemen klub disebut tidak berencana menjadikannya bagian dari proyek utama musim depan.
Faktor performa yang fluktuatif serta beban gaji yang tinggi menjadi pertimbangan penting. Klub lebih memilih mencari pembeli permanen pada bursa transfer mendatang ketimbang menjadikannya pelapis. Rumor transfer bahkan menyebutkan ketertarikan dari Inter Milan yang tengah mempertimbangkan regenerasi di sektor penjaga gawang.
Jika skenario itu terwujud, Onana berpeluang kembali ke lingkungan yang pernah memberinya stabilitas dan kesuksesan. Berbeda dengan narasi penurunan yang menyelimuti Onana, Marco Asensio justru menunjukkan kebangkitan yang konsisten di Turki. Dalam pertandingan yang sama melawan Trabzonspor, ia mencetak 1 gol dan 1 asis, mempertegas perannya sebagai motor serangan Venerbahce.
Hingga memasuki pekan kedua, Asensio telah mengoleksi 10 gol dan 8 asis dari 18 laga liga. Rata-rata kontribusi langsung hampir 1 gol per pertandingan menjadi indikator jelas bahwa ia telah menemukan ritme terbaiknya. Statistik tersebut mencerminkan konsistensi yang sempat hilang pada tahun-tahun terakhirnya di Real Madrid.
Di Madrid, persaingan ketat dan rotasi pemain membuat Asensio kerap kesulitan mempertahankan peran sentral. Ia perlahan tersisih dari sorotan utama Liga Champions dan absen dari skuad tim nasional Spanyol sejak Oktober 2023. Kepindahannya ke Venerbahce awalnya dianggap sebagai langkah menjauh dari pusat sepak bola elite Eropa.
Namun, justru di Turki ia mendapatkan peran yang lebih jelas dan kepercayaan penuh dari pelatih. Ia tidak hanya ditempatkan sebagai penyerang sayap, tetapi juga sebagai kreator utama dalam mengatur tempo permainan dan menentukan arah serangan. Perubahan peran tersebut berdampak signifikan terhadap performanya.
Asensio kini lebih sering menyentuh bola, mengambil keputusan taktis, serta memikul tanggung jawab besar dalam membangun serangan. Ia bermain dengan ketenangan dan kecerdasan membaca situasi, menunggu momen tepat untuk melepaskan umpan kunci atau tembakan akurat. Kepercayaan diri yang tumbuh dari peran sentral ini menjadi fondasi kebangkitannya.
Secara psikologis, rasa dihargai dan dibutuhkan dalam tim mampu menghidupkan kembali motivasi kompetitif seorang pemain. Kebangkitan Asensio juga memiliki dimensi internasional. Dengan Piala Dunia di depan mata, setiap pemain Spanyol berlomba menunjukkan performa terbaik mereka demi bisa menarik perhatian pelatih nasional, bukan reputasi di masa lalu.
Jika konsistensi ini terjaga hingga akhir musim, peluang Asensio kembali ke tim nasional terbuka lebar. Kekalahan ini membuat Trabzonspor masih tertahan di posisi ketiga klasemen dengan 45 poin, tertinggal 7 poin dari Venerbahce di posisi kedua. Kisah Onana dan Asensio di Liga Turki menegaskan bahwa sepak bola adalah arena yang sangat dipengaruhi konteks.
Lingkungan yang tepat dapat mengangkat kembali potensi seorang pemain, sementara tekanan dan inkonsistensi dapat mempercepat penurunan performa. Pada akhirnya, perjalanan karir tidak ditentukan oleh satu pertandingan, tetapi oleh kemampuan beradaptasi dan menjaga stabilitas mental dalam jangka panjang.
Bagi Onana, tantangan terbesarnya adalah memulihkan kepercayaan diri dan membuktikan bahwa fase ini hanyalah kemunduran sementara. Bagi Asensio, tantangannya adalah mempertahankan standar tinggi agar kebangkitannya tidak sekadar menjadi episode singkat. Musim masih menyisakan banyak laga, dan di lapangan hijau itulah masa depan keduanya akan kembali diuji.






