
Lensa Bola – Kelab kebanggaan masyarakat Palembang, Sriwijaya FC, tengah menghadapi fase paling kelam dalam sejarah panjangnya. Tim yang dikenal dengan julukan Elang Andalas dan Laskar Wongkito itu resmi menjadi klub pertama yang terdegradasi dari kompetisi Pegadaian Championship musim 2025–2026, meskipun liga masih menyisakan enam pertandingan. Kepastian pahit tersebut didapat setelah kekalahan telak 0–3 dari Sumsel United pada pekan ke-21 yang digelar di Stadion Gelora Sriwijaya.
Hasil itu bukan sekadar catatan statistik, melainkan simbol runtuhnya daya saing klub yang pernah menjadi kekuatan besar sepak bola nasional. Dengan kekalahan tersebut, Sriwijaya FC dipastikan turun ke Liga Nusantara, kompetisi kasta ketiga Indonesia. Sebuah kenyataan yang terasa kontras dengan sejarah gemilang yang pernah mereka ukir.
Secara performa, musim 2025–2026 menjadi cerminan keterpurukan total. Hingga pekan ke-21, Sriwijaya FC hanya mampu mengoleksi dua poin tanpa satu pun kemenangan. Catatan tersebut menempatkan mereka di dasar klasemen Grup A dengan selisih yang sangat jauh dari zona aman.
Jarak poin dengan Persikat Tegal yang berada satu tingkat di atas mereka mencapai 20 angka. Sebuah selisih yang secara matematis mustahil dikejar dalam enam laga tersisa. Ketidakmampuan meraih kemenangan sejak awal musim menunjukkan bahwa persoalan tim bukan hanya soal hasil di lapangan, melainkan masalah struktural yang lebih dalam dan kompleks.
Kekalahan dari Sumsel United mempertegas lemahnya fondasi teknis dan mental tim. Bermain di kandang sendiri yang dahulu dikenal angker, Sriwijaya FC tak mampu memberikan perlawanan berarti. Lini pertahanan rapuh, koordinasi antarpemain kurang solid, dan lini serang kehilangan ketajaman. Situasi ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi internal klub yang terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir, terutama krisis finansial yang mencapai puncaknya pada musim ini.
Sejak 31 Desember 2025, dukungan sponsor utama dari PT Digisport Asia melalui pemegang saham terbesarnya, Alexander Rusli, resmi berhenti. Kehilangan sponsor utama berarti hilangnya sumber pendanaan tetap yang selama ini menopang operasional klub. Tanpa pemasukan yang stabil, manajemen kesulitan memenuhi kewajiban dasar seperti pembayaran gaji pemain dan staf pelatih.
Keterlambatan pembayaran serta ketidakpastian kontrak memicu turunnya moral tim. Sejumlah pemain memilih hengkang demi mencari kepastian karier di klub lain, sehingga kualitas skuad menurun drastis. Sriwijaya FC yang dulu dikenal dihuni pemain bintang kini lebih banyak mengandalkan pemain muda dan sisa skuad yang bertahan dalam situasi sulit.
Ketimpangan kualitas dengan tim pesaing pun semakin terlihat setiap pekan. Krisis finansial juga berdampak pada aspek teknis dan logistik. Dalam beberapa laga tandang antarpulau, Sriwijaya FC harus menempuh perjalanan darat menggunakan bus, bukan pesawat terbang sebagaimana lazimnya klub profesional.
Perjalanan panjang dan melelahkan tersebut tentu memengaruhi kebugaran pemain serta kesiapan bertanding. Lebih jauh lagi, klub sempat tidak memiliki pelatih kiper profesional dalam struktur kepelatihan, sebuah kondisi yang mencerminkan lemahnya manajemen teknis. Ketidaklengkapan staf pelatih berdampak pada kualitas latihan dan pengembangan pemain, sehingga performa di lapangan semakin sulit ditingkatkan.
Ketidakjelasan arah manajemen turut memengaruhi stabilitas tim. Pada awal 2026, pelatih kepala Budi Sudarsono memilih kembali ke Jakarta karena ketidakpastian operasional klub. Keputusan tersebut menjadi indikator bahwa struktur kepemimpinan dan tata kelola tidak berjalan efektif.
Tanpa kepastian, visi, strategi, dan dukungan finansial, sulit bagi tim untuk bangkit dari tekanan kompetisi yang semakin ketat. Degradasi musim ini pun dapat dipandang sebagai puncak dari akumulasi persoalan yang telah berlangsung lama, bukan semata-mata kegagalan teknis satu musim. Ironisnya, kondisi ini sangat kontras dengan masa kejayaan Sriwijaya FC pada era 2000-an hingga awal 2010-an.
Klub ini didirikan pada 2004 setelah Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengakuisisi lisensi tim Solo FC. Sejak awal berdiri, Sriwijaya FC dibangun dengan ambisi besar untuk langsung bersaing di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Dukungan pemerintah daerah, struktur manajemen yang relatif solid, serta perekrutan pemain berkualitas membuat klub ini berkembang pesat dalam waktu singkat.
Hanya dalam beberapa tahun, mereka menjelma menjadi kekuatan baru yang disegani di kancah nasional. Puncak kejayaan datang pada 2007 ketika Sriwijaya FC mencatatkan prestasi gemilang sebagai double winner dengan menjuarai Divisi Utama Liga Indonesia dan Copa Indonesia dalam satu musim. Kesuksesan tersebut diraih di bawah asuhan pelatih Rahmad Darmawan dan menjadi tonggak sejarah penting bagi klub.
Keberhasilan itu mempertegas identitas Sriwijaya FC sebagai klub ambisius dengan fondasi manajerial yang kuat. Pada periode 2008 hingga 2011, mereka konsisten tampil di ajang AFC Cup, membawa nama Indonesia di pentas Asia dan memperkuat reputasi internasional klub. Dominasi domestik kembali ditegaskan pada 2012 saat Sriwijaya FC menjuarai Indonesia Super League (ISL).
Skuad saat itu diperkuat pemain-pemain berkualitas seperti Keith Kayamba Gumbs, Firman Utina, dan Ferry Rotinsulu. Kombinasi pengalaman dan kualitas teknis menjadikan era tersebut sebagai masa paling gemilang dalam sejarah klub. Stadion Gelora Sriwijaya menjadi saksi ribuan suporter merayakan kemenangan demi kemenangan, sementara nama Sriwijaya FC identik dengan konsistensi dan profesionalisme.
Namun memasuki periode 2013 hingga 2018, tanda-tanda penurunan mulai terlihat. Pengelolaan klub terlalu bergantung pada figur politik dan kurang mengedepankan prinsip bisnis profesional sehingga menyebabkan fondasi finansial rapuh. Pergantian manajemen dan pelatih yang terlalu sering juga mengganggu stabilitas tim.
Krisis internal terus terasa hingga akhirnya pada 2019 Sriwijaya FC terdegradasi ke Liga 2. Peristiwa itu menjadi pukulan telak bagi klub yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu raksasa sepak bola Indonesia. Sejak degradasi pertama tersebut, Sriwijaya FC berupaya keras untuk kembali promosi ke kasta tertinggi. Namun berbagai kendala internal membuat target tersebut tak kunjung tercapai.
Klub bertahan di Liga 2 tanpa perbaikan struktural yang signifikan. Krisis finansial yang berulang, ketidakjelasan investor, serta lemahnya manajemen membuat upaya kebangkitan berjalan di tempat. Hingga akhirnya musim 2025–2026 menjadi titik nadir ketika mereka kembali terdegradasi, kali ini ke Liga Nusantara.
Degradasi ini bukan hanya persoalan turun kasta, melainkan ujian eksistensi bagi Sriwijaya FC. Klub yang pernah merajai kompetisi nasional kini harus membangun ulang dari level ketiga. Untuk bangkit, dibutuhkan restrukturisasi menyeluruh mulai dari manajemen, keuangan, hingga pembinaan pemain muda.
Transparansi, profesionalisme, dan pencarian investor baru menjadi kunci agar klub dapat kembali kompetitif. Tanpa pembenahan mendasar, bukan tidak mungkin kejayaan masa lalu hanya akan menjadi kenangan yang perlahan memudar dalam ingatan publik sepak bola Indonesia.
Bagi masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan, Sriwijaya FC lebih dari sekadar klub. Sriwijaya FC adalah simbol identitas daerah dan kebanggaan kolektif. Karena itu, keterpurukan ini menjadi refleksi penting tentang pentingnya tata kelola profesional dalam olahraga modern. Masa depan Sriwijaya FC kini bergantung pada komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan perubahan nyata.
Jika pembenahan dilakukan secara serius dan berkelanjutan, peluang kebangkitan tetap terbuka. Namun jika tidak, perjalanan Elang Andalas mungkin akan semakin menjauh dari panggung utama sepak bola Indonesia.






