
Lensa Bola – Menjelang pertengahan musim 2025-2026, situasi Vinicius Junior di Real Madrid menjadi salah satu topik paling kompleks dan menyitap perhatian sepak bola Eropa. Pemain sayap asal Brazil tersebut tengah berada di persimpangan penting dalam karirnya, dimana berbagai faktor mulai dari performa di lapangan, relasi dengan pelatih dan supporter hingga negosiasi kontrak membentuk dinamika yang tidak sederhana. Kondisi ini terasa kontras dengan status Vinicius sebagai salah satu pemain kunci yang dalam beberapa musim terakhir berperan besar dalam keberhasilan Los Blancos di level domestik maupun Eropa.
Isu utama yang menjadi latar belakang ketidakpastian tersebut adalah negosiasi perpanjangan kontrak yang belum mencapai kesepakatan. Saat ini, Vinicius masih terikat kontrak dengan Real Madrid hingga musim panas 2027. Meski secara administratif durasi kontrak itu masih cukup panjang bagi klub sekelas Real Madrid, masa depan pemain inti biasanya diamankan jauh sebelum kontrak mendekati masa akhir.
Namun hingga kini, pembicaraan perpanjangan kontrak dilaporkan berjalan stagnan. Vinicius dikabarkan menginginkan kenaikan gaji sebagai refleksi dari kontribusi dan statusnya di dalam tim. Sementara pihak klub cenderung berhati-hati dalam menyesuaikan struktur gaji demi menjaga keseimbangan finansial dan hirarki squad.
Perbedaan kepentingan inilah yang membuat negosiasi berjalan alat tanpa hasil yang konkret. Di tengah kebuntuan tersebut, situasi Vinicius di dalam tim juga tidak sepenuhnya stabil. Hubungannya dengan pelatih Real Madrid Xabi Alonso sempat disorot akibat beberapa momen di lapangan yang memunculkan spekulasi adanya ketegangan.
Meski tidak pernah berkembang menjadi konflik terbuka, gestur emosional Vinicius dalam beberapa pertandingan memicu perhatian publik. Ia bahkan sempat menyampaikan permintaan maaf yang menunjukkan adanya kesadaran atas sikapnya. Namun, permintaan maaf tersebut tidak serta-merta mengakhiri sorotan karena persoalan lain justru semakin mengemuka, terutama terkait performanya yang menurun.
Masalah performa menjadi aspek paling nyata yang dirasakan Vinicius saat ini. Dalam 14 pertandingan terakhir, ia belum mampu mencetak gol. Sebuah catatan yang menjadi pacek lid terpanjangnya dalam 5 tahun terakhir bersama dengan Real Madrid.
Bagi seorang pemain depan yang dikenal agresif dan eksplosif, statistik tersebut tentu memunculkan tekanan besar. Walau demikian, rentetan tanpa gol ini belum menjadi yang terburuk sepanjang karirnya. Pada periode Oktober 2020 hingga Februari 2021, Vinicius bahkan pernah melewati 25 pertandingan berturut-turut tanpa mencetak gol.
Namun, perbedaan mendasarnya terletak pada ekspektasi. Saat ini, Vinicius bukan lagi pemain muda yang sekedar menjanjikan potensi, melainkan figur utama yang diharapkan konsisten menentukan hasil pertandingan. Kondisi ini menjadi semakin sensitif karena peran Vinicius dalam sistem permainan Real Madrid sangat krusial.
Kecepatan, kemampuan dribble, kreativitas serta keberanianya dalam duel satu lawan satu, menjadikannya senjata utama di sektor sayap. Ia sering menjadi pemecah kebuntuan ketika Madrid kesulitan membongkar pertahanan lawan. Oleh sebab itu, ketiadaan gol dan menurunnya efektivitas kontribusi ofensifnya langsung berdampak pada penilaian publik.
Tekanan yang awalnya bersifat teknis perlahan berubah menjadi tekanan psikologis, terutama ketika reaksi dari supporter mulai terasa. Hubungan Vinicius dengan pendukung Real Madrid menjadi sorotan tersendiri. Dalam lagam lawan Sevilla, ia sempat mendapatkan siulan dari sebagian publik Santiago Bernabu saat ditarik keluar lapangan.
Peristiwa tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan supporter terhadap performanya. Bagi pemain yang dikenal emosional seperti Vinicius, reaksi semacam itu bisa berdampak signifikan terhadap kepercayaan diri. Menanggapi situasi tersebut, Xabi Alonso memilih bersikap netral dan menilai respon supporter sebagai bagian dari dinamika di klub besar tanpa memperkeruh suasana dengan pernyataan kontroversial.
Sorotan terhadap Vinicius makin tajam ketika performanya dibandingkan dengan rekan satu timnya Kylian Mbappé. Sepanjang tahun 2025, Mbappé tampil luar biasa dengan torehan 59 gol di semua kompetisi sementara Vinicius baru mengeleksi 13 gol. Perbedaan kontribusi yang mencolok ini secara tidak langsung mempengaruhi persepsi publik dan media.
Vinicius yang sebelumnya menjadi ikon serangan Real Madrid, kini berada di bawah bayang-bayang Kylian Mbappé. Padahal secara ideal, kehadiran dua pemain bintang tersebut diharapkan saling melengkapi dan memperkaya opsi serangan, bukannya menciptakan tekanan sepihak. Di tengah situasi yang penuh tekanan itu, Vinicius juga menunjukkan sisi emosionalnya melalui media sosial.
Ia mengganti foto profil Instagram dari mengenakan jarsi Real Madrid menjadi jarsi tim nasional Brasil. Langkah sederhana ini memicu berbagai spekulasi. Sebagian pihak menafsirkannya sebagai sinyal ketidaknyamanan atau kekecewaan terhadap situasi klub, sementara yang lain melihatnya sebagai ekspresi kebanggaan terhadap tim nasional.
Namun, dalam kondisi yang tidak stabil, setiap gestur kecil dari pemain bintang cenderung dibaca sebagai petunjuk mengenai masa depan mereka. Isu masa depan Vinicius semakin menguat ketika perhatian tertuju pada manuver sang agen. Meski kontraknya masih berlaku hingga 30 Juni 2027, Real Madrid disebut mulai mencermati berbagai perkembangan yang berpotensi mempengaruhi keberlangsungan kerjasama.
Klub raksasa Spanyol itu dikabarkan telah mengetahui adanya pendekatan yang dilakukan agen Vinicius ke sejumlah klub top Eropa. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk penjajakan opsi di tengah negosiasi yang belum menemui titik terang, sekaligus sebagai tekanan tidak langsung dalam proses tawar-menawar. Beberapa klub elit Eropa disebut masuk dalam daftar komunikasi sang agen termasuk Paris Saint Germain, Bayern München, Arsenal dan Manchester United.
Munculnya nama Manchester United dalam pusaran rumor ini menambah dimensi baru, mengingat daya tarik finansial dan komersial klub Premier League tersebut. Meski belum ada indikasi pembicaraan resmi yang mengarah pada transfer konkret, Real Madrid dikabarkan telah mengetahui manuver tersebut. Namun, pihak klub memilih bersikap tenang dan menahan diri, menilai rumor semacam ini sebagai bagian dari dinamika negosiasi pemain bintang.
Meski demikian, Real Madrid juga menyadari resiko strategis jika situasi ini dibiarkan berlarut-larut. Kehilangan pemain sekelas Vinicius tanpa kompensasi tentu menjadi skenario yang ingin dihindari. Oleh karena itu, setiap sinyal dari pihak agen akan menjadi bahan pertimbangan serius dalam pembicaraan lanjutan.
Di internal klub, pembicaraan perpanjangan kontrak Vinicius dilaporkan mengalami stagnasi selama beberapa bulan terakhir. Madrid juga tidak serta-merta menganggap kepergian Vinicius sebagai sesuatu yang tidak terelakkan. Berbagai skenario masih terbuka, terutama menjelang bursa transfer musim panas mendatang.
Di sisi lain, Vinicius Junior sendiri disebut masih membayangkan masa depan jangka panjang bersama Real Madrid. Terlepas dari tekanan, kritik dan reaksi sebagian supporter, fokus utamanya saat ini adalah mengembalikan performa terbaiknya. Ia, memahami bahwa kontribusi nyata di atas lapangan dalam bentuk gol, asisst dan permainan efektif merupakan cara paling konkret untuk meredam kritik, sekaligus memperkuat posisinya dalam negosiasi kontrak.
Kebangkitan performa Vinicius diakini akan mengubah banyak hal, baik dalam dinamika internal tim maupun dalam pandangan publik. Sementara itu, secara kolektif Real Madrid masih berada dalam jalur persaingan gelar, hingga memasuki pekan ke-18, Los Blancos menempati posisi kedua klasmen dengan raihan 42 poin, tertinggal 4 angka dari Barcelona di puncak. Posisi ini menunjukkan bahwa Real Madrid tetap kompetitif, meski menghadapi berbagai persoalan internal.
Dalam konteks tersebut, peran pemain kunci seperti Vinicius menjadi sangat vital untuk menjaga konsistensi dan peluang juara.






