Lensa Bola – Chelsea kembali menelan hasil mengecewakan dalam melanjutan fase grup Liga Champions. Setelah takluk 1-2 di jauhi stadium Bergamo Markas Atalanta, kekalahan ini semakin mempertegas inkonsistensi performa The Blues, meskipun mereka datang dengan status mentereng sebagai juara UFA Conference League dan piala dunia antar klub musim lalu. Harapan besar yang mengiringi perjalanan Chelsea di musim ini kembali harus tertunda karena mereka gagal mempertahankan keunggulan dan akhirnya tumbang setelah Atalanta berhasil membalikan keadaan di babak kedua.

Hasil negatif ini juga memperpanjang tren buruk Chelsea yang belum mampu meraih kemenangan dalam 4 pertandingan terakhir di semua ajang kompetisi. Sebuah catatan yang tentu menjadi sorotan tajam bagi pelatih Enzo Maresca dan seluruh elemen tim. Datang ke Italia dengan kondisi tim yang tidak sepenuhnya ideal, Chelsea sudah berada dalam tekanan sejak sebelum pertandingan dimulai.

Enzo Maresca mengonfirmasi bahwa dua pemain penting mereka yaitu Cool Palmer dan Liam Delap tidak ikut serta dalam rombongan karena alasan kebugaran. Absennya Palmer yang selama ini menjadi motor serangan Chelsea jelas mengurangi daya kreatifitas tim di lini depan. Meskipun demikian, Maresca tetap memilih menggunakan skema andalan 4-2-3-1 dengan menempatkan Pedro Neto sebagai ujung tombak.

Sementara Joao Pedro dan Enzo Fernandes berperan sebagai pendukung serangan dari lini kedua. Di sektor pertahanan, Chelsea mengandalkan kombinasi pemain muda dan berpengalaman untuk meredam agresivitas Atalanta yang dikenal dengan permainan cepat dan intensitas tinggi. Di kubutuhan rumah, Atalanta tampil dengan kekuatan penuh dengan menurunkan trio andalan mereka di lini depan yaitu Charles Decatalaire, Gian Lucas Camaca dan Ademullah Luqman yang selama ini menjadi tulang punggung produktifitas Golladea.

Sejak peluit awal dibunyikan, Atalanta langsung menunjukkan dominasi permainan dengan berusaha mengambil inisiatif serangan. Dukungan penuh dari para pendukung di jauh stadium menambah semangat para pemain tuan rumah untuk menekan sejak menit-menit awal. Peluang pertama tercipta pada menit ke-6 melalui pergerakan cepat Ademullah Luqman dari sisi sayap.

Meski peluang tersebut masih belum mampu mengancam gawang Chelsea secara signifikan, tekanan Atalanta terus berlanjut dan pada menit ke-19 mereka sempat mendapatkan dua peluang beruntun melalui Gian Lucas Camaca dan kembali lewat Ademullah Luqman. Namun, solidnya lini belakang Chelsea serta kesigapan penjaga gawang membuat peluang-peluang tersebut mampu digagalkan. Meski lebih banyak tertekan, Chelsea justru tampil lebih efektif dalam memanfaatkan peluang yang mereka miliki.

Pada menit ke-25, serangan balik cepat yang dibangun The Blues berhasil membuahkan gol melalui João Pedro. Gol tersebut sempat diperiksa melalui VAR untuk memastikan tidak ada pelanggaran dalam proses terjadinya gol sebelum akhirnya disahkan oleh wasit. Chelsea pun unggul 1-0, sebuah keunggulan yang sedikit bertentangan dengan jalannya pertandingan karena mereka kalah dalam penguasaan bola dan jumlah peluang.

Atalanta tidak menurunkan tempo permainan meski tertinggal. Mereka kembali mencoba menyamakan kedudukan melalui tembakan Luqman pada menit ke-31. Namun, upaya tersebut masih mampu diblock oleh barisan pertahanan Chelsea.

Hingga akhir babak pertama, kedua tim sama-sama kesulitan menciptakan peluang bersih tambahan. Sehingga, skor 1-0 untuk keunggulan Chelsea bertahan hingga turun minum. Memasuki babak kedua, Chelsea tampak lebih percaya diri dengan mencoba meningkatkan intensitas serangan.

Peluang emas sempat mereka dapatkan pada menit ke-51 melalui Rhys James yang melakukan penetrasi dari sisi kanan. Namun, penyelesaiannya masih belum berbuah gol. Momentum pertandingan justru berubah beberapa menit kemudian ketika Atalanta berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-55.

Gol tersebut dicetak oleh Gianluca Scamacca yang memanfaatkan umpan silang akurat dari Carlos Decatalaire. Sundulan Scamacca tak mampu dijangkau oleh keeper Chelsea dan skor pun berubah menjadi 1-1. Gol ini seolah menjadi titik balik kebangkitan Atalanta.

Mereka semakin percaya diri dalam menguasai jalannya pertandingan dan terus menekan pertahanan Chelsea yang mulai tampak kehilangan konsentrasi. Pada menit ke-62, Scamacca kembali hampir mencetak gol keduanya dalam laga ini setelah mendapatkan peluang dari situasi bola mati. Namun, sundulannya masih melebar tipis di sisi kiri gawang.

Chelsea semakin tertekan dan lebih banyak bertahan untuk mengamankan hasil imbang. Sementara Atalanta terus menggempur dengan variasi serangan dari sisi sayap maupun melalui sektor tengah lapangan. Tekanan yang terus menerus akhirnya membuahkan hasil bagi Atalanta pada menit ke-83.

Carlos de Catalayre yang tampil impresif sepanjang pertandingan berhasil mencatatkan namanya di papan skor melalui tembakan kaki kanan dari dalam kotak penalti setelah menerima umpan matang dari Martin Derun. Gol tersebut menjadi gol kemenangan bagi Atalanta sekaligus menutup laga dengan skor 2-1. Chelsea mencoba melakukan upaya terakhir di sisa waktu pertandingan untuk kembali menyamakan kedudukan.

Namun rapatnya pertahanan Atalanta membuat semua usaha mereka tidak membuahkan hasil hingga peluit panjang berbunyi skor 2-1 tetap bertahan untuk kemenangan tim tuan rumah. Kekalahan ini memberikan dampak signifikan bagi posisi Chelsea di kelas men sementara grup Liga Champions. Mereka kini harus turun ke peringkat ke-11 dengan koleksi 10 poin dari 6 pertandingan.

Sebuah posisi yang tentatif dan cukup beresiko jika mereka ingin melangkah ke fase gugur. Sebaliknya, kemenangan ini membawa Atalanta naik ke peringkat ke-3 dengan raihan 13 poin, memperbesar peluang mereka untuk melaju ke babak selanjutnya. Hasil ini juga menegaskan bahwa Atalanta semakin matang sebagai salah satu kekuatan baru di sepak bola Eropa, terutama dengan karakter permainan mereka yang agresif, disiplin dan penuh determinasi.

Bagi Chelsea, hasil ini kembali menyorotis jumlah masalah mendasar yang belum mampu mereka selesaikan sepanjang musim ini, terutama soal konsistensi permainan dan ketahanan mental. Keunggulan yang sempat mereka miliki di babak pertama kembali terbuang sia-sia karena kegagalan menjaga fokus dan kedisiplinan di babak kedua. Masalah transisi bertahan juga kembali terlihat pada dua gol yang bersarang ke gawang mereka, di mana lini pertahanan tanpa kesulitan mengantisipasi pergerakan pemain Atalanta di kotak penalti.

Absennya beberapa pemain kunci, turut memperparah situasi karena Chelsea kehilangan sosok kreator yang mampu menghidupkan lini serang saat tim berada dalam tekanan. Dari sisi mental, para pemain Chelsea terlihat belum cukup matang untuk mengendalikan permainan ketika berada dalam posisi unggul, sesuatu yang seharusnya menjadi bekal penting bagi tim yang ingin bersaing di level tertinggi Eropa. Di sisi lain, Atalanta kembali membuktikan bahwa mereka bukan lagi tim pelengkap di Liga Champions.

Di bawah arahan gian Piero Gasper ini, mereka tampil sebagai tim yang solid, agresif dan penuh semangat juang. Kombinasi antara pemain muda bertalenta dan pemain berpengalaman, membuat Atalanta mampu mengimbangi bahkan mengungguli klub-klub besar Eropa. Kemenangan atas Chelsea bukan hanya memberi tambahan 3 poin, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri tim dalam melanjutkan perjuangan mereka di kompetisi ini.

Jika mampu menjaga konsistensi hingga akhir fase grup, peluang Atalanta untuk melangkah jauh di Liga Champions musim ini terbuka sangat lebar. Tim Asuan Raffaele Palladino layak mendapatkan pujian atas kerja keras dan determinasi mereka yang berbuah manis melalui kemenangan penting ini, sekaligus mempertegas status mereka sebagai tim yang patut diperhitungkan di Liga Champions musim ini.

lion mesdon
Desember 23, 2025
Tags: ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *