
Lensa Bola – Duel penuh drama tersaji di pertandingan leg pertama babak playoff Liga Champions UFA antara Benfica melawan Real Madrid di Stadio Deluxe pada Rabu 18 Februari 2026 dini hari waktu Indonesia Barat. Laga ini bukan sekedar duel dua klub besar dengan sejarah panjang di kompetisi elit benua biru, tetapi juga menjadi panggung pembuktian mentalitas, kedewasaan strategi dan sorotan tajam terhadap isu rasisme yang kembali mencuat. Sejak menit awal, Benfica langsung menunjukkan determinasi tinggi dengan mengambil inisiatif serangan, bermain di hadapan pendukung sendiri.
Wakil Portugal itu berusaha menekan sejak peluit pertama dibunyikan. Peluang pertama lahir ketika pertandingan baru memasuki menit kedua melalui sepakan first time Gianluca Prestiani, meski bola masih melambung di atas Mister Gawang Tibaut Kortoa. Tekanan cepat tersebut menjadi sinyal bahwa Benfica tidak ingin sekedar bertahan, melainkan berupaya mengamankan keunggulan kandang sebelum melakukan leg kedua di Madrid.
Intensitas permainan mereka memaksa lini tengah Real Madrid bekerja ekstra keras untuk menjaga keseimbangan. Real Madrid datang dengan motivasi besar setelah pada pertemuan sebelumnya mereka dipaksa menelan kekalahan 4-2 yang membuat langkah ke babak 16 besar tidak berjalan mulus. Kali ini pendekatan mereka lebih terstruktur.
Kylian Mbappe melepaskan tembakan keras yang sempat membuat Anatoli Trubin kerepotan. Meski bola terlepas sejenak dari tangkapan, keeper Benfica itu sigap mengamankan situasi sebelum menjadi peluang lanjutan bagi Los Blancos. Duel kemudian berkembang menjadi pertarungan terbuka.
Amardedic mencoba peruntungan lewat sepakan jarak jauh, tetapi Cortois tampil dengan solid. Ardagular pun merespon dengan ancaman serupa, memperlihatkan bahwa Madrid tak mau kalah agresif. Peluang emas hampir tercipta ketika tren Alexander Arnold mengirimkan umpan silang berbahaya yang gagal diantisipasi sempurna oleh lini belakang tuan rumah.
Bola jatuh di kaki Vinicius Junior, namun sontekanya masih melebar tipis. Momen tersebut menjadi pertanda bahwa sang winger Brasil semakin percaya diri. Cortois kembali menunjukkan kelasnya saat menepis sepakan keras Frederick Aursenus dengan satu tangan.
Penyelamatan krusial yang menjaga skor tetap imbang. Menjelang turun minum, Real Madrid meningkatkan tekanan. Bape mendapatkan dua peluang emas, termasuk situasi di depan gawang yang seharusnya mudah dikonversi menjadi gol.
Tetapi kurangnya sentuhan akhir membuat skor tetap 0-0 hingga babak pertama usai. Babak kedua menjadi titik balik. Baru lima menit berjalan, Vinicius Junior memecah kebuntuan melalui aksi individu yang mencerminkan kualitas teknik dan keberanian.
Dengan gerakan meliuk-liuk yang khas, ia melewati ambar Dedik sebelum melepaskan sepakan melengkung ke sudut kiri atas gawang Turbin. Gol tersebut bukan hanya indah secara estetika, tetapi juga bernilai strategis karena tercipta di kandang lawan. Selebrasi Vinicius yang penuh dengan tarian dan ekspresi emosional justru berujung kartu kuning karena dianggap berlebihan oleh wasit Frank Weiss latest year.
Keputusan ini memantik reaksi beragam, tetapi drama sebenarnya baru dimulai. Sesaat setelah gol tercipta, situasi semakin memanas. Pertandingan terpaksa dihentikan selama kurang lebih 10 menit akibat ketegangan di lapangan.
Kylian Mbape terlihat meluapkan emosi kepada Gianluca Prestiani yang ditunding melontarkan hinaan bernuansa rasis terhadap Vinicius. Dalam pernyataannya selesai laga, Bape mengklaim bahwa ucapan tersebut terjadi berulang kali dan bahkan tertangkap kamera meskipun sang pemain mencoba menutupi mulutnya dengan jarsi. Insiden ini segera menyita perhatian luas mengingat Vinicius dalam beberapa musim terakhir memang kerap menjadi sasaran tindakan diskriminatif di berbagai stadion Eropa.
Peristiwa tersebut mempertegas bahwa persoalan rasisme masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi otoritas sepakbola internasional. Setelah laga dilanjutkan, atmosfer stadion berubah semakin panas. Sorakan dari sebagian pendukung tuan rumah terus diarahkan kepada Vinicius setiap kali ia menyentuh bola.
Namun, alih-alih tertekan, pemain berusia 25 tahun itu justru tampil semakin agresif. Ia kembali mengancam gawang Trubin dengan sepakan keras yang memaksa sang keeper melakukan penyelamatan gemilang. Performa Vinicius sepanjang babak kedua menunjukkan ketangguhan mental di tengah tekanan emosional dan psikologis.
Menjelang akhir pertandingan, ketegangan belum mereda. Vinicius melakukan pelanggaran di dekat kotak penalti sendiri yang memicu protes keras dari kubu tuan rumah. Situasi semakin panas ketika pelatih Benfica Jose Mourinho melayangkan protes berlebihan kepada wasit dan akhirnya diganjar dengan kartu merah.
Mourinho menilai Vinicius seharusnya menerima kartu kuning kedua, namun keputusan wasit tetap tidak berubah. Tambahan waktu 12 menit diberikan akibat terhentinya laga cukup lama pada babak kedua. Dalam periode krusial tersebut, Real Madrid memilih pendekatan pragmatis dengan menjaga kedalaman pertahanan dan memperlambat tempo permainan.
Benfica berusaha memaksimalkan sisa waktu dengan memancarkan tekanan bertubi-tubi, tetapi disiplin di lini belakang Real Madrid membuat skor tidak berubah. Hingga peluit panjang dibunyikan, Los Blancos mempertahankan keunggulan tipis 1-0. Hasil ini memberikan keuntungan penting menjelang leg kedua karena kemenangan tandang di fase gugur Liga Champions memiliki nilai strategis tinggi.
Meski margin hanya 1 gol, secara psikologis, Real Madrid berada di posisi yang lebih menguntungkan. Secara keseluruhan, laga ini mencerminkan kompleksitas sepak bola modern. Di satu sisi, pertandingan menyuguhkan kualitas teknik tinggi, strategi matang serta aksi individu berkilauan yang layak diapresiasi.
Di sisi lain, insiden rasisme yang mencuat kembali mengingatkan bahwa sepak bola belum sepenuhnya bebas dari diskriminasi. Solidaritas yang ditunjukkan Bape kepada rekan satu timnya menjadi simbol bahwa para pemain semakin vokal dalam menentang perlakuan tidak adil. Dengan leg kedua masih menanti, persaingan belum selesai.
Benfica memiliki kesempatan membalas di kandang lawan, sementara Real Madrid akan berusaha mengunci tiket ke babak berikutnya dengan memanfaatkan keunggulan agregat. Namun, terlepas dari hasil akhir nanti, pertandingan di Estadio Daluz ini sudah tercatat sebagai salah satu laga paling dramatis musim ini. Malam ketika satu gol indah Vinicius Junior tidak hanya menentukan skor, tetapi juga memantik perbincangan luas tentang sportivitas, keadilan dan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi dalam sepak bola Eropa.
Dengan hasil ini, Madrid hanya butuh hasil imbang untuk bisa lolos 16 besar di pertemuan leg kedua di Santiago Bernabu pada 26 Februari mendatang.






