Wasit pertandingan sepak bola meninjau tayangan VAR di monitor tepi lapangan saat pemain menunggu di stadion

Prosedur VAR Liga Indonesia dirancang untuk membantu wasit mengambil keputusan pada momen penting pertandingan, bukan untuk menggantikan seluruh kewenangan wasit lapangan. Teknologi ini bekerja berdasarkan kategori insiden yang telah ditentukan dalam Laws of the Game, VAR Handbook, serta ketentuan FIFA, IFAB, AFC, PSSI, dan I.League.

Karena itu, tidak semua pelanggaran atau keputusan wasit dapat diperiksa ulang. VAR hanya boleh melakukan intervensi pada empat situasi utama. Pemahaman terhadap batas ini penting agar pemain, ofisial, klub, dan penonton tidak menganggap setiap tayangan ulang sebagai alasan untuk menghentikan pertandingan.

Dasar penggunaan VAR di Liga Indonesia

VAR merupakan bagian dari perangkat ofisial pertandingan. Tugasnya adalah meninjau rekaman dari berbagai sudut, mengidentifikasi kemungkinan kesalahan yang jelas dan nyata, lalu menyampaikan informasi kepada wasit apabila insiden tersebut termasuk dalam protokol.

Keputusan akhir tetap berada pada wasit lapangan. Dalam beberapa situasi, wasit dapat menerima informasi VAR tanpa melihat monitor. Namun, untuk keputusan yang membutuhkan penilaian atau interpretasi, wasit biasanya perlu melakukan On-Field Review atau OFR.

Pembagian ini membuat proses pemeriksaan lebih terukur. VAR tidak bertindak sebagai pengambil keputusan mandiri yang bebas mengubah semua keputusan di lapangan.

4 insiden yang dapat ditinjau VAR

1. Gol atau tidak gol

VAR dapat membantu ketika terdapat keraguan apakah sebuah gol sah atau tidak. Pemeriksaan dapat berkaitan dengan kejadian yang langsung mendahului gol, selama masih berada dalam lingkup protokol VAR.

Contohnya mencakup kemungkinan bola telah keluar sebelum proses serangan berakhir, pelanggaran dalam rangkaian serangan, atau posisi offside yang berpengaruh terhadap gol. VAR juga dapat membantu memastikan apakah bola benar-benar melewati garis gawang.

Untuk fakta objektif, seperti posisi pemain atau status bola, informasi dapat disampaikan melalui VAR Advice Only. Jika terdapat unsur interpretasi, wasit dapat diminta melakukan OFR sebelum menetapkan keputusan.

2. Penalti atau tidak penalti

Insiden di dalam atau sekitar kotak penalti dapat ditinjau apabila berkaitan dengan kemungkinan penalti atau keputusan penalti yang sudah diberikan. VAR dapat membantu menemukan kesalahan yang jelas, misalnya pelanggaran terjadi di luar kotak atau kontak yang dinilai sebagai pelanggaran ternyata tidak memenuhi kriteria.

Meski demikian, VAR tidak otomatis memeriksa setiap kontak fisik. Penilaian tetap harus berhubungan dengan keputusan penalti dan memenuhi ambang intervensi. Apabila situasinya subjektif, wasit lapangan dapat melihat tayangan melalui OFR untuk menilai sendiri konteks kejadian.

3. Kartu merah langsung

VAR dapat melakukan intervensi pada insiden yang berpotensi menghasilkan kartu merah langsung. Pemeriksaan ini tidak dimaksudkan untuk meninjau seluruh kartu kuning atau setiap pelanggaran keras.

Fokusnya adalah memastikan apakah pemain seharusnya menerima kartu merah langsung, termasuk ketika wasit mungkin melewatkan insiden serius. Sebaliknya, kartu kuning kedua tidak termasuk kategori tinjauan VAR berdasarkan empat area intervensi tersebut.

Karena keputusan kartu merah sering melibatkan interpretasi mengenai intensitas, dampak, dan karakter pelanggaran, OFR dapat diperlukan. Wasit tetap menjadi pihak yang menetapkan keputusan disipliner di lapangan.

4. Kesalahan identitas pemain

VAR juga dapat membantu apabila wasit memberikan kartu kepada pemain yang keliru. Kesalahan identitas biasanya terjadi ketika beberapa pemain terlibat dalam satu insiden dan wasit salah mengaitkan pelanggaran dengan pemain tertentu.

Kategori ini bukan sarana untuk mengubah semua keputusan disipliner. Intervensinya terbatas pada koreksi identitas pemain yang menerima sanksi, sehingga kartu atau tindakan dapat diarahkan kepada pemain yang benar sesuai kejadian.

VAR Advice Only dan On-Field Review

Perbedaan antara VAR Advice Only dan OFR menjadi bagian penting dari prosedur VAR Liga Indonesia. Advice Only digunakan ketika fakta kejadian dapat ditentukan secara objektif melalui tayangan ulang. Wasit tidak selalu perlu datang ke monitor karena informasi tersebut tidak membutuhkan interpretasi tambahan.

Situasi faktual dapat mencakup hal-hal yang jawabannya relatif pasti, seperti posisi pemain, lokasi kejadian, atau apakah bola telah melewati garis tertentu. Dalam konteks ini, VAR menyampaikan temuan kepada wasit agar permainan dapat dilanjutkan atau keputusan diperbaiki sesuai protokol.

Sementara itu, OFR digunakan untuk insiden subjektif. Wasit melihat tayangan di area pemeriksaan untuk menilai sendiri apakah kontak merupakan pelanggaran, apakah sebuah tindakan memenuhi kriteria kartu merah langsung, atau apakah keputusan awal perlu diubah.

OFR bukan berarti keputusan VAR otomatis berlaku. Monitor memberikan informasi tambahan, tetapi kewenangan akhir tetap ada pada wasit pertandingan.

Batas kewenangan VAR yang perlu dipahami

VAR tidak dapat dipanggil untuk semua kejadian. Protes terhadap lemparan ke dalam, tendangan sudut, pelanggaran biasa di tengah lapangan, atau kartu kuning umumnya tidak masuk empat kategori intervensi. Ruang lingkup yang terbatas justru menjaga agar pertandingan tidak terlalu sering terhenti.

Pertandingan juga tetap dinyatakan sah apabila terjadi gangguan teknis VAR, kendala sumber daya listrik, atau VAR tidak berfungsi. Sistem teknologi membantu proses perwasitan, tetapi kegagalannya tidak otomatis membatalkan pertandingan.

Kesalahan keputusan setelah penggunaan VAR pun tidak otomatis menjadi alasan pertandingan dibatalkan atau diulang. VAR merupakan bagian dari ofisial pertandingan, sehingga keputusan yang telah dibuat tetap berada dalam kerangka kewenangan wasit dan protokol kompetisi.

Aturan perilaku pemain dan ofisial

Proses pemeriksaan VAR memiliki area khusus yang disebut Referee Review Area. Pemain atau ofisial yang memasuki area tersebut ketika OFR berlangsung dapat dikenai kartu kuning. Aturan ini bertujuan menjaga konsentrasi wasit dan mencegah kerumunan atau tekanan langsung di sekitar monitor.

Pemain atau ofisial yang berulang kali meminta pemeriksaan VAR dengan gestur menyerupai simbol monitor juga dapat menerima kartu kuning. Satu gestur protes tidak boleh berubah menjadi tekanan berulang terhadap perangkat pertandingan.

Klub perlu menyampaikan pemahaman ini kepada pemain dan staf agar reaksi terhadap keputusan VAR tetap terkendali. Prosedur yang tertib membantu pemeriksaan berlangsung lebih cepat dan mengurangi risiko sanksi yang tidak perlu.

Perkembangan penerapan VAR di kompetisi Indonesia

Penerapan VAR terus menjadi bagian dari upaya meningkatkan profesionalisme perwasitan dan operasional kompetisi nasional. Pegadaian Championship 2025/2026 menjadi musim pertama kompetisi kasta kedua Indonesia yang menggunakan VAR secara penuh dalam 273 pertandingan.

Di level kompetisi teratas, penyamaan pemahaman juga menjadi perhatian. I.League dan PSSI menggelar workshop Laws of the Game serta Match Operation Session untuk pelatih dan manajer klub BRI Super League 2026/2027. Forum semacam ini membantu klub memahami proses pertandingan, termasuk cara kerja VAR dan batas intervensinya.

Kesimpulan

Prosedur VAR Liga Indonesia berpusat pada empat kategori: gol atau tidak gol, penalti atau tidak penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain. Insiden objektif dapat diselesaikan melalui VAR Advice Only, sedangkan kejadian subjektif dapat memerlukan On-Field Review.

Namun, VAR bukan pengganti wasit dan tidak menjamin setiap keputusan menjadi benar. Gangguan teknis, kesalahan setelah pemeriksaan, atau tidak dilakukannya OFR tidak otomatis membuat pertandingan tidak sah. Dengan memahami batas kewenangan tersebut, penonton dan pelaku sepak bola dapat menilai penggunaan VAR secara lebih proporsional.

lensabola
Oktober 7, 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *