
Lensa Bola – Pertandingan Pekan ke-17 Premier League mempertemukan Newcastle United dan Chelsea di St. James Park menghadirkan implikasi besar terhadap peta persaingan papan atas klasmen. Newcastle United tampil agresif sejak menit awal dengan memanfaatkan dukungan penuh publik tuan rumah, menurunkan komposisi pemain yang menekankan intensitas, kecepatan dan keberanian dalam menekan lawan seperti Anthony Gordon di sektor sayap, Nick Walter-Meadt sebagai ujung tombak, dan Sandro Tonali yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan dan distribusi bola di lini tengah. Tekanan tinggi yang diterapkan The Magpies langsung membuahkan hasil ketika laga baru berjalan 4 menit.
Kesalahan fatal dilakukan oleh Wesley Fovana yang terlalu lama menguasai bola di area berbahaya, situasi yang dengan cepat dimanfaatkan oleh Gordon merebut penguasaan. Bola kemudian dialirkan kepada Jacob Murphy yang melepaskan umpan ke depan gawang Chelsea. Upaya Gordon sempat digagalkan oleh Robert Sanchez, tetapi bola ribbon jatuh tepat di kaki Walter-Meadt yang tanpa kesulitan berarti menuntaskannya ke gawang kosong, membawa Newcastle unggul cepat dan menegaskan dominasi mereka di fase awal pertandingan.
Goal tersebut semakin meningkatkan kepercayaan diri Newcastle, sementara Chelsea terlihat belum sepenuhnya siap menghadapi intensitas tinggi yang diperagakan tuan rumah. Tiga menit berselang, Gordon hampir saja menggandakan keunggulan melalui tembakan dari dalam kotak penalti. Namun, kembali Sanchez menjadi penyelamat meski momen tersebut diwarnai protes pemain Chelsea yang merasa Malugusto dilanggar sebelum peluang tercita.
Wasit memilih tidak menghentikan permainan, sebuah keputusan yang kemudian menambah tensi pertandingan. Newcastle terus mengontrol jalan nyelaga dengan permainan langsung dan agresif, membuat Chelsea kesulitan membangun serangan dari lini belakang dan kehilangan ritme permainan. Dominasi Newcastle kembali terkonversi menjadi gol pada menit ke-20 ketika Anthony Gordon mengirim umpan lambung akurat ke kotak penalti yang disambut dengan sontekan sederhana namun efektif oleh Waltemate.
Dalam kondisi tertinggal, Chelsea berusaha merespons, tetapi upaya mereka kerapkan das sebelum memasuki area berbahaya. Lini tengah Newcastle tampil disiplin dalam memutus aliran bola, sementara barisan pertahanan mereka cukup solid mengantisipasi pergerakan lawan. Statistik babak pertama mencerminkan dominasi tuan rumah dengan Chelsea bahkan belum mampu mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran.
Harapan sempat muncul menjelang akhir babak pertama ketika Pedro Neto mencetak gol melalui sundulan, namun gol tersebut dianulir karena bola sempat memantul ke tanah lalu mengenai tangannya sendiri sebelum masuk ke gawang sehingga dinilai sebagai handsball. Newcastle hampir menutup babak pertama dengan keunggulan lebih besar andai sontekan Waltemate tidak melenceng tipis dari sasaran, tetapi skor 2-0 tetap bertahan hingga turun minum. Memasuki babak kedua, Chelsea menunjukkan perubahan signifikan dalam pendekatan permainan, menandakan adanya penyesuaian taktis dari Enzio Maresca yang mendorong timnya bermain lebih agresif, berani mengambil resiko dan meningkatkan tempo serangan.
Perubahan tersebut langsung membuahkan hasil ketika babak kedua baru berjalan 4 menit. Rhys James yang tampil sebagai kapten, mencetak gol spektakuler melalui tendangan bebas yang melengkung indah ke pojok kanan atas gawang Aaron Ramsdale, sebuah eksekusi sempurna yang menghidupkan kembali kepercayaan diri Chelsea. Setelah gol tersebut, momentum pertandingan berbalik, Chelsea mulai lebih dominan dalam penguasaan bola dan mampu menciptakan sejumlah peluang berbahaya.
Newcastle tidak sepenuhnya tertekan dan tetap berupaya mengancam melalui serangan balik cepat, tetapi intensitas tekanan Chelsea semakin meningkat. Usaha keras tim tamu akhirnya terbayar pada menit ke-66 ketika João Pedro menerima umpan panjang dari Sanchez, memenangkan duel fisik di lini tengah lalu dengan tenang menaklukkan Ramsdale untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Gol tersebut mengubah dinamika pertandingan menjadi semakin terbuka dengan kedua tim sama-sama berambisi mencari gol kemenangan.
Chelsea nyaris berbalik unggul ketika Alejandro Garnacho melepaskan tembakan dari sudut sempit yang membentur tiang gawang dan situasi serupa kembali terjadi semenit kemudian ketika upayanya kembali digagalkan oleh Mistar. Newcastle juga mendapatkan momen krusial melalui Harvey Barnes, tetapi tembakannya di depan gawang berhasil diblock secara heroik oleh Rhys James yang menunjukkan kontribusi penting tidak hanya dalam menyerang tetapi juga bertahan. Drama berlanjut di menit-menit akhir pertandingan.
Moises Caicedo hampir mencetak gol kemenangan melalui tembakan jarak jauh yang melenceng tipis dari sasaran sementara Ramsdale kembali tampil solid dengan mengagalkan peluang Garnacho dari jarak dekat. Newcastle sendiri nyaris mencuri kemenangan lewat serangan balik cepat yang diawali lemparan jauh Ramsdale ke Anthony Elanga. Tetapi penyelesian akhir sang pemain masih belum akurat hingga peluit panjang dibunyikan, skor imbang 2-2 tetap bertahan menutup laga yang syarat emosi, peluang dan perubahan momentum.
Hasil ini memiliki konsekuensi penting bagi Chelsea karena tambahan satu poin membuat mereka hanya meraih satu kemenangan dalam lima pertandingan terakhir Premier League. Sebuah catatan yang menyerati masalah konsistensi di tengah persaingan ketat papan atas. Meski masih berada di posisi keempat klasmen, Chelsea kini berada dalam tekanan serius karena jarak poin dengan tim-tim pesaing seperti Liverpool dan Manchester United semakin menipis.
Sehingga setiap laga ke depan menjadi krusial dalam upaya untuk mengamankan tiket Liga Champions. Di tengah dinamika performa tersebut, Chelsea juga dihadapkan pada rumor besar terkait masa depan pelatih mereka Enzo Maresca. Kabar yang beredar luas menyebutkan bahwa Maresca berpotensi kembali ke Manchester City untuk menggantikan Pep Guardiola seiring laporan The Athletic yang mengindikasikan adanya antisipasi kuat bahwa musim ini bisa menjadi musim terakhir Guardiola di Etihad Stadium.
Meski keputusan final, kemungkinan baru akan diambil menjelang akhir musim. Jika Guardiola benar-benar hengkang sebelum kontraknya berakhir, Manchester City tentu membutuhkan sosok pengganti yang memahami filosofi klub dan mampu menjaga kesinambungan dominasi mereka. Dan dalam konteks itulah, nama Maresca mencuat sebagai salah satu kandidat utama.
Pengalaman Maresca melatih tim U21 City pada musim 2020-2021, kemudian kembali sebagai asisten pelatih tim utama, membuatnya memiliki pemahaman mendalam terhadap struktur dan filosofi permainan klub tersebut. Ditambah keberhasilannya membangun Chelsea sebagai tim kompetitif yang mampu meraih gelar dan bersaing di level tertinggi. Meski demikian, Maresca saat ini terikat kontrak jangka panjang bersama Chelsea hingga 2029 dengan opsi perpanjangan satu tahun, sebuah kesepakatan yang secara formal mencerminkan komitmen jangka panjang antara pelatih dan klub.
Menanggapi berbagai spekulasi tersebut, Maresca menegaskan bahwa rumor kepindahannya sama sekali tidak mempengaruhi fokusnya dan menyebut seluruh kabar yang beredar sebagai spekulasi murni. Ia menekankan bahwa prioritasnya sepenuhnya tertuju pada Chelsea dan proyek yang sedang ia bangun, serta mengingatkan bahwa sebelumnya ia juga sempat dikaitkan dengan klub lain seperti Juventus. Namun, isu-isu tersebut tidak pernah ia anggap serius.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan dirinya masih menjadi pelatih Chelsea pada musim 2026-2027, Maresca menjawab dengan keyakinan penuh bahwa ia akan tetap berada di klub sesuai dengan kontraknya. Ia juga menegaskan bahwa masih banyak target ambisius yang ingin ia capai bersama dengan Chelsea, terutama setelah keberhasilan meraih gelar Liga Konferensi, Piala Dunia Antarklub, dan memastikan kelolosan ke Liga Champions, yang menurutnya baru menjadi fondasi awal dari proyek jangka panjang yang ingin ia wujudkan. Kini, untuk menjaga posisinya tetap aman di Stamford Bridge, Maresca wajib mengangkat kepercayaan diri para pemain untuk kembali ke jalur kemenangan di semua kompetisi.






